Kristen Protestan berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda (VOC), pada sekitar abad ke-16. Kebijakan VOC yang mereformasi Katolik dengan sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia.
#10679
Bab 1. Pendahuluan.

Sudah lama saya ingin menulis kesaksian ini, tetapi belum ada kesempatan untuk menuliskannya.
Setelah belasan tahun bergumul, pada kesempatan inilah saya dapat menuliskan kesaksian ini.

Kesaksian ini bukan untuk saya, tetapi untuk semua orang yang mau percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat hidupnya.

Setiap orang berusaha mencari keselamatan hidup setelah kematian.
Mulai dari beribadah, melakukan hal-hal yang baik, beramal kepada orang-orang miskin dan mempercayai adanya Sang Pencipta.
Setiap orang berusaha meraih Kehidupan di Surga.

Tetapi tidak bagi saya..... hingga suatu hari, seakan-akan ada panggilan kuat di pikiran dan batin saya, bagaimana cara menemukan Kehidupan Surga itu.

Kesaksian ini berawal ketika saya beranjak usia 12 tahun.......


Bab 2. Kilas Balik

Saya adalah seorang anak laki-laki yang sejak usia 6 bulan, terpisah dari orangtua.
Sejak saya lahir hingga usia saya 6 bulan, saya diasuh oleh Ayah dan Nenek saya.
Saya memiliki ibu, tetapi ibu saya telah meninggalkan keluarga saya dan ayah saya.
Saya seorang anak yang tidak tahu hari, tanggal, bulan dan tahun saya lahir.

Kisah saya dimulai ketika usia saya 6 bulan, saya diadopsi oleh keluarga Kristen yang taat dan baik.
Ketika usia saya menginjak 1 tahun, saya bertumbuh tidak seperti anak-anak pada umumnya.
Rambut saya botak, gigi belum tumbuh, badan saya kecil dan kurus.
Keadaan saya seperti itu hingga usia saya hampir 2 tahun.
Saya kecil mendapat julukan "anak monyet", karena badan saya yang kurus dan kecil.

Pada satu ketika Paman saya di kampung, memberitahu Ibu saya bahwa saya memiliki kelainan.
Paman saya berkata bahwa saya memiliki intuisi yang sangat tajam dan cerdas.
Ibu saya hanya tersenyum dan menanyakan alasannya, mengapa berbicara seperti itu?

Lalu Paman saya menjawab : Anak kakak itu, bagaimana dia tahu bahwa dia mau diambil (diadopsi) oleh keluarga sini (Paman saya)? Seolah-olah dia tahu bahwa dia mau diambil.
Sampai2 tidak mau lepas dari gendongan kakak (Ibu saya) selama seharian.

Kejadian itu dijawab dengan senyuman dari Ibu saya dan Paman saya harus rela saya tidak jadi diadopsi oleh mereka, karena selama 1 minggu saya tidak lepas dari pelukan dan gendongan Ibu saya.

Saya sendiri mampu mengingat apa yang terjadi pada saat itu dan saya dengan jelas dapat menjelaskan secara detail mengenai keadaan rumah, siapa2 saja yang ada di rumah tersebut dan aktivitas apa saja yang mereka lakukan, padahal usia saya 1.5 tahun

Di tahun ke-2 usia saya... saya mengalami sakit2an, setiap minggu saya dibawa ke dokter untuk berobat.
Saya sendiri ingat kartu absensi saya yang penuh dengan kehadiran saya dan catatan medis saya.

Kondisi saya seperti itu sampai usia saya 5 tahun.
Selama bertahun2 saya harus minum obat setiap minggu dan pergi ke dokter.
Jika saya mengingat hal itu, sungguh mereka adalah orangtua yang sangat baik, bertanggungjawab dan peduli.
Usia orangtua saya saat itu sudah masuk usia Lansia.

Bersambung.....
#10680
Bab 3. Vonis Mematikan Sang Dokter

Ketika usia saya menginjak 5 tahun, dengan kondisi saya yang rutin ke dokter setiap minggu.
Akhirnya Kakak dan Ibu saya membawa saya ke Dokter Spesialis.
Saya ingat betul peristiwa tersebut, peristiwa dimana saya berontak dan menolak untuk diambil darah.

Singkat cerita, Kakak dan Orangtua saya tidak seperti biasanya, mereka lesu dan terlihat bekas menangis.
Dalam pikiran saya, ada apa dengan mereka?
Diwaktu perjalanan pulang malam hari, saya diajak untuk main di arena permainan anak-anak, saya mandi bola, saya naik robot2an yang tinggi.
Tempat main itu ada di Pancoran, Toko Tiga daerah Kota /Glodok Pasar Pagi.
Tidak seperti biasanya mereka seperti ini.
Saya masih kecil dan tidak mengerti apa yang terjadi....

Waktu berlalu dan saya umur 6 tahun, pada saat itu saya masih rutin setiap minggu ke dokter dan setiap hari sampai bosen saya harus minum obat.
Saya ingat kejadian tahun lalu dan saya tanyakan kepada ayah saya, apa yang terjadi dengan saya? mengapa Mama dan kakak sedih dan menangis? Ayah saya menjawab dan mengambil nafas panjang. Dia berusaha tegar saat menjelaskan kepada saya, katanya "kata dokter (yg kebetulan nama dokternya sama dengan saya) anak papa sakit Leukimia".
Saya tidak tahu apa itu Leukimia?? apakah berbahaya?
Ayah saya tidak menjawabnya.

Hingga pada suatu hari, menjelang saya berumur 7 tahun, saya bertanya kepada Ibu saya mengenai apa yang terjadi, apa itu Leukimia.
Ibu saya berkata "Umur anak Mama tidak lebih dari 12 tahun".
Lalu saya mengangguk dan tetaplah saya tidak mengerti apa yang dikatakan oleh ibu saya.

Bersambung....
#10681
Bab 4. Mujizat Kesembuhan

Usia saya menjelang 7 tahun, pada waktu itu teman - teman tetangga rumah saya ramai-ramai mereka di Khitan (disunat) karena mereka dari keluarga Muslim.

Saya biasa ikut mereka menemani mengaji, menemani sembahyang.
Lalu tiba-tiba ada dorongan kuat dalam hati saya seperti ada yang bicara kalau saya juga harus dikhitan.
Kemudian saya memberanikan diri bicara dengan orangtua saya untuk dikhitan.
Bukan suatu kebetulan jika orangtua saya setuju, mereka tanya kapan mau dikhitannya?
Saya jawab "liburan sekolah".

Singkat cerita, pas liburan sekolah kelas 2 SD akhirnya saya dikhitan.
Dasar saya anak bandel dan terlalu aktif, saya lama sembuh.

Minggu demi minggu berlalu, ada yang aneh pikir saya, kenapa koq saya biasanya setiap minggu pergi ke dokter ini tidak??
Ahh....mungkin karena habis makan obat pada saat dikhitan.
Tapi sebulan, dua bulan, tiga bulan saya tidak berobat dan tubuh saya mulai gemuk.
Sungguh luar biasa..... saya mengalami Mujizat Kesembuhan, bebas dari minum obat setiap hari dan saya tidak pergi lagi ke dokter setiap minggu.
Orangtua saya sangat bersyukur dan senang saya tidak pergi berobat ke dokter.


Bab 5. Awal dari Keputusan Besar

Tahun demi tahun saya jalani, tubuh saya semakin sehat dan bertumbuh seperti anak-anak pada umumnya.
Intuisi tetap ada dan kuat, Intuisi juga yang saya andalkan untuk "mencari uang".
Saya sejak usia 8 tahun sudah memiliki otak bisnis dan bagaimana caranya saya mendapatkan uang karena saya tidak mau membebani orangtua saya.
Saya sayang mereka, mereka sudah Lansia, saya tidak mau membebani mereka.
Meski saya punya pemikiran seperti itu, saya tetap di cap bandel oleh orangtua saya, karena saya menurut mereka sering pulang telat dan main.
Padahal saya ada dijalanan jadi Pak Ogah, saya keliling lapangan bola berjualan Es Kebo (Es Teh Manis di Plastik), Saya jadi Kernet Angkot dan Saya main di tempat arena Ding Dong (Game).
Dari sanalah penghasilan saya, selain mengerjakan PR melukis teman sekelas saya.

Singkat cerita, ketika saya hampir 12 tahun, tepatnya Bulan Juni 1992.
Saya ditantang di gereja pada acara Sekolah Injil Liburan (S.I.L) untuk mengambil keputusan besar, yaitu apakah saya bersedia untuk percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya.
Saya katakan, keputusannya nanti tunggu di akhir S.I.L.

Saya bertanya kepada Kakak saya, mengapa saya harus mempercayai Yesus?
Bukankah saya ke Gereja dan beribadah saja sudah cukup?
Bukankah saya berbuat baik saja sudah cukup?
Saya ingat betul, pertanyaan saya itu saya tanyakan di dalam Metromini 84 pada saat saya menuju ke Gereja.
Lalu kakak saya menjawab "Ya supaya kamu selamat dan nama mu ada tercatat di Kitab kehidupan".
Tetapi saya masih berpikir, saya tidak percaya Yesus, hidup baik dan beribadah saja sudah cukup untuk membawa saya ke Surga.

Bersambung.....
#10682
Bab 6. Vonis Jadi Kenyataan

Hingga hari ke - 5 Sekolah Injil Liburan, saya masih bersikeras tidak mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya.
Saya tetap berpikir saya sudah hidup baik, tidak mau menyusahkan orangtua, tidak berbuat sesuatu yang jahat, saya ibadah ke gereja.
Hingga kakak saya mengingatkan kepada saya bahwa saat inilah waktu yang pas untuk saya menerima Yesus.
Entah apa karena dia tahu bahwa pada saat itu usia saya 12 tahun? atau karena memang saya harus percaya?
Tapi saya tidak berpikir demikian.

Hingga di malam hari ke-6 Sekolah Injil Liburan, hari ke-6 terakhir Sekolah Injil Liburan.
Bulan Juni 1992, saya lupa tanggalnya, tetapi saya ingat betul Jamnya menunjukkan pukul 00.32 WIB.

Pada saat itu, saya merasakan tubuh saya sesak nafas, sangat sesak dan saya batuk-batuk. Kuping saya seperti berdengung dan kaki saya seperti dingin dan mati rasa. Saya bangun, saya melihat jam dan saya bangunkan ayah saya.
Dia kaget karena saya Pucat, itu kata ayah saya.
Setelah itu saya diambilkan air, lalu saya minum dan saya disuruh tidur kembali oleh Ayah saya dan ayah saya masih menunggui saya untuk tidur.
Setelah saya berbaring dan menengok ke sebelah kiri, nafas saya semakin sesak dan batuk2.
Sangat sesak seakan2 oksigen menipis dan hampir2 tidak ada.
Sekujur tubuh saya mulai dari kaki, menjalar ke paha, menjalar ke perut, menjalar ke tangan, menjalar ke dada dan akhirnya kebagian leher sudah dingin dan mati rasa.
Yang saya rasakan saat itu adalah saya seperti berada di ruang hampa udara, sunyi dan aneh sekaligus sesak nafas.

Sekejap saya memejamkan mata dan saya terbangun, alangkah kagetnya saya ketika saya terbangun.
Tubuh saya terasa ringan, mati rasa dan seperti tidak ada bobot sama sekali.
Segalanya sunyi dan hampa, saya melihat dinding kamar saya dan saya melihat ayah saya tidur membelakangi saya.

Lalu saya melihat ada satu sosok berpakaian putih dengan cahaya yang lembut memanggil nama saya dan berkata "waktumu telah tiba, kemari dan Ikutlah denganku".
Entah kenapa saya mengetahui di dalam pikiran saya bahwa itu adalah sosok malaikat.
Saya berdiri dan benar! Saya serasa melayang tak punya raga.
Pada saat itu saya tidak sadar jika saya sudah mengalami kematian.
Lalu saya berjalan ke depan melewati ayah saya, tapi anehnya saya berjalan ke atas bukan ke depan dan dinding kamar saya itu nyata tapi ketika saya lewat dinding tersebut transparan dan seperti berlubang.

Dibalik dinding tersebut saya berjalan di sebuah lorong tidak terang dan tidak gelap.
Saya menjumpai malaikat tersebut dan tangan saya digandeng.
Yang saya lihat dan ingat, saya memakai baju jubah putih panjang, tanpa alas kaki dan rasanya melayang.
Lalu berjalanlah saya bersama malaikat tersebut melewati lorong, seperti portal namun tipis seperti kabut.

Bersambung.....
#10734
Ahahha...bro Nughets.... sambungannya nti malem saya tulis....

Sudah habis masa sabar dan masa tunggu.....
Semakin banyak org yg bersaksi ke Surga dan Neraka, tpi kesaksian itu tidak bisa saya terima begitu saja, krn berbeda.... dan kadang tidak sesuai Alkitab.

Jika hanya penglihatan sih okelah masih make sense dan saya bisa terima, sebab ada beberapa alasan jika sebatas penglihatan.
1. Penglihatan itu timbul krn Kuasa TUHAN
2. Penglihatan itu timbul krn "Emosi Pikiran Berlebih", hingga tidak sadar bahwa ilusi seakan nyata dalam keadaan tidak tidur. Misal berdoa....
3. Mimpi atau Bunga tidur.

Tapi jika sudah out of body nnti dlu... saya liat backgroundnya dlu apakah dia memiliki indera keenam pasif atau tidak?
Krn efek pada tubuh ketika melakukan perjalanan antar dimensi itu besar bgt...yg tadinya indera keenamnya pasif (angot2an) setelah Out of body melintasi dimensi2 jadi aktif melewati batas normal.

Kebanyakan dari kesaksian itu hampir rata2 sama, ada perbedaan dgn apa yg dituliskan di Alkitab.
Oleh karena itu saya agak gerah dan sudah lama saya pendam....
Bagi saya pengalaman "kematian" adalah pengalaman pribadi dan saya akan berbagi dengan org yg benar2 ingin tahu bagaimana rasanya mati dan apa yg terjadi setelah itu.
Setelah mengalami kejadian itu saya berbagi dan ada kesamaan kesaksian dengan beberapa orang yg ketika mereka sadar dari koma dan ada jg yg mendekati kematian namun belum waktunya.

Tidak semua orang dapat bebas melintasi Dimensi2 tanpa ruang dan waktu, apalagi masuk ke Dimensi Kekekalan.

Bahkan Rasul Yohanes di dalam Kitab Wahyu tidak memiliki kesempatan memasuki Neraka.
Krn Neraka bukanlah tempat (seperti Surga dan Bumi).