Buddha merupakan agama tertua kedua di Indonesia, tiba pada sekitar abad keenam masehi. Sejarah Buddha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu, sejumlah kerajaan Buddha telah dibangun sekitar periode yang sama.
By Lifin88
#4267
Beberapa saat yang lalu, saya mengunjungi sebuah laman media sosial dan menemukan sebuah pertanyaan dan jawaban yang sangat menggelitik untuk dibahas. Saya kira hal itu sangat baik jika saya membagikan cerita tersebut kesini. Semoga bisa menjadi bahan pemikiran dan masukan yang baik bagi semua.

(Identitas penanya dan penjawab saya hilangkan karena disini kita hanya mengambil isinya)

Pertanyaan:
Ada yang mau jawab pertanyaan saya ?
Jikalau hidup mati ditentukan Karma
Apabila seseorang dibunuh Bagaimana peran si pembunuh
Apakah dia cuma melengkapi karma si terbunuh
Atau dia diperbudak oleh sang karma
Kalau dikatakan si pembunuh membuat karma buruk, bukankah karma itu juga semestinya diterima si terbunuh
Jikalau seluruh dunia tidak ada yg melakukan karma buruk pembunuhan, bagaimana bisa karma seseorang untuk terbunuh itu berbuah
Jadi apakah pembunuh bergerak oleh karma si terbunuh

Ada yang bisa bantu jelaskan, formula karma yang diputer puter semakin kelihatan cuma omong kosong atas ketidaktahuan kenapa orang jahat hidupnya justru baik ?

Dan kenapa orang baik hidupnya justru susah ?

Penjawab 1:
faktor karma itu bukan seolah" apa yg terjadi maka di sebut karma...terkadang hal buruk terjadi pada dirikita smw itu hanya kesialan yg sedang menyertai kita...kenapa ada yg mati karena terbunuh???itu terkadang sikap dan kepribadian dy yg membuat org" menjadi melakukan hal bgtu..dan bisa saja dy sudah di takdir kan untuk meninggal sprt bgtu karena akibat dari karma buruk yg pernah ia perbuat di masa lalu nya sblum menjadi dy yg sekarang...

Penjawab 2:
kenapa orang jahat hidupnya justru baik ?

Dan kenapa orang baik hidupnya justru susah ? ~» akumulasi karma... seorang jahat hidupnya baik bisa jadi karena hasil perbuatan baik di masa lalu sedang berbuah... tetapi karma buruk yg saat ini dilakukan itu semuanya berkumpul dan tinggal menunggu saatnya matang, bisa matang di kehidupan saat ini ataupun kehidupan mendatang.

Mengapa orang baik hidupnya susah? Sama seperti penjelasan sebelum ny, akumulasi karma buruk sedang berbuah. Karma baik yg dilakukan saat ini juga dikumpulkan dan menunggu saatnya berbuah.

Jika dunia ini semua insan tidak melakukan pembunuhan lagi, maka karma terbunuh yg belum habis itu bisa terealisasikan melalui bencana alam atau kecelakaan.

Ada juga yang namanya karma massal, karma ini berbuah diwaktu yg bersamaan dengan sejumlah banyak orang di dalamnya (termasuk kematian krn bencana alam, kecelakaan, kebakaran dll)

Intinya terus memurnikan diri dengan bantuan ajaran Buddha Dharma. Hilangkan segala nafsu duniawi yg menghambat permurnian tersebut.

Semua hal tergantung diri kita sendiri.. bagaimana kita merespon dan menerima suatu kejadian

Semoga sedikit penjelasan ini bisa membantu
By Lifin88
#4268
Penjawab 3:
MATAKABHATTA-JĀTAKA
Sumber : Indonesia Tipitaka Center
“Jika mengetahui hukuman,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai (perayaan) makanan untuk orang-orang yang telah meninggal. Saat itu, para penduduk membunuh kambing, domba, hewan-hewan lainnya, dan mempersembahkan mereka dalam sebuah ritual yang disebut perayaan makanan untuk mereka yang telah meninggal demi keselamatan sanak keluarga mereka yang mereka tinggalkan. Melihat para penduduk sedang melaksanakan upacara tersebut, para bhikkhu bertanya kepada Sang Guru, “Bhante, barusan para penduduk membunuh sejumlah makhluk hidup dan mempersembahkan mereka dalam sebuah ritual yang disebut sebagai perayaan makanan untuk mereka yang telah meninggal. Dapatkah hal itu membawa kebaikan, Bhante?”
“Tidak, para Bhikkhu,” jawab Sang Guru, “pembunuhan yang dilakukan dengan tujuan mengadakan sebuah perayaan, tidak akan membawa kebaikan apa pun juga. Di kehidupan yang lampau, mereka yang bijaksana membabarkan Dhamma dengan melayang di udara, dan menunjukkan akibat buruk dari praktik yang salah itu, membuat semuanya meninggalkan praktik tersebut. Namun dewasa ini, saat pengaruh kelahiran sebelumnya telah mengacaukan pikiran mereka, praktik salah itu muncul kembali.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini.
______________________
Sekali waktu ketika Brahmadatta memerintah di Benares, seorang brahmana yang sangat menguasai ajaran Tiga Weda, dan terkenal di seluruh dunia sebagai seorang guru, mempunyai ide mengadakan perayaan makanan untuk mereka yang telah meninggal. Ia mengambil seekor kambing dan berkata pada para muridnya, “Anak-anakku, bawa kambing ini ke sungai di bawah sana dan mandikan; kemudian pasangkan untaian bunga di lehernya, berikan padanya semangkuk padi-padian dan rapikan ia sedikit, lalu bawa ia kembali kepadaku.”
“Baiklah,” jawab mereka, dan membawa kambing itu turun ke sungai, tempat ia dimandikan. Setelah itu, mereka merapikan kambing itu dan membawanya ke tepi sungai. Kambing yang mempunyai kesadaran akan perbuatannya di kelahiran yang lampau, merasa gembira memikirkan bahwa ia akan terbebas dari kesengsaraannya, ia tertawa dengan suara yang nyaring seperti bunyi panci yang jatuh. Namun saat memikirkan brahmana itu akan mendapatkan kesengsaraan karena membunuhnya, ia merasa sangat kasihan pada brahmana tersebut dan menangis dengan suara yang nyaring pula. “Teman,” kata seorang brahmana muda [167], “saat tertawa maupun menangis, suaramu sama nyaringnya; apa yang membuatmu tertawa dan apa juga yang membuatmu menangis?”
“Tanyakan kembali pertanyaan ini di hadapan gurumu.” Dengan membawa kambing itu, mereka menemui sang guru, kemudian menceritakan kejadian itu kepada guru mereka. Mendengar cerita mereka, guru itu bertanya kepada kambing tersebut mengapa ia tertawa lalu menangis. Di saat inilah hewan yang mengetahui akibat perbuatannya di kelahiran yang lampau, karena mempunyai kemampuan untuk mengingat kembali tentang kelahirannya yang lampau, menyatakan hal ini kepada brahmana tersebut : — “Di kehidupan yang lampau, Brahmana, saya sama sepertimu, seorang brahmana yang sangat menguasai ajaran Weda, dan demi memberikan persembahan pada perayaan makanan untuk mereka yang telah meninggal, saya membunuh seekor kambing sebagai korban. Hanya karena membunuh seekor kambing, kepala saya telah dipenggal selama empat ratus sembilan puluh sembilan kali. Ini adalah yang kelima ratus kalinya, dan merupakan kelahiran saya sebagai seekor kambing yang terakhir kalinya. Saya tertawa dengan nyaring saat memikirkan saya akan segera terbebas dari kesengsaraan. Di sisi yang lain, saya menangis karena memikirkan bagaimana, karena membunuh seekor kambing, saya mendapatkan malapetaka dengan kehilangan kepala sebanyak lima ratus kali, dan kamu akan menerima hukuman karena membunuh saya, kamu juga akan mendapatkan malapetaka dengan kehilangan kepala, seperti saya, sebanyak lima ratus kali. Karena rasa kasihan itulah saya menangis.” “Jangan takut, Kambing,” kata brahmana itu, “Saya tidak akan membunuhmu.” “Apa katamu, Brahmana?” seru kambing itu, “Baik engkau akan membunuhku maupun tidak, saya tidak akan dapat melepaskan diri dari kematian hari ini.” “Jangan takut; saya akan mendampingimu untuk menjagamu.” “Perlindunganmu merupakan kelemahan, Brahmana, dan akan memberi kekuatan pada hasil kejahatanku.”
Setelah membebaskannya, brahmana memberi pesan kepada para muridnya, “Jangan sampai ada orang yang membunuh kambing itu.” Bersama beberapa pemuda, ia mengikuti hewan itu dalam jarak dekat. Setelah dibebaskan, kambing itu menjulurkan lehernya untuk makan daun-daun yang tumbuh di dekat puncak sebuah batu besar. Secara tiba-tiba, petir menyambar batu itu, satu pecahan batu yang besar menghantam kambing yang sedang menjulurkan lehernya itu dan terpisahlah kepala kambing dari badannya. Orang-orang berdatangan mengerumuni tempat itu.
[168] Saat itu, Bodhisatta terlahir sebagai dewa pohon di tempat itu. Dengan kekuatan gaibnya, ia duduk bersila melayang di udara, semua orang dalam kerumunan itu melihatnya. Ia berpikir, “Jika makhluk-makhluk ini mengetahui akibat perbuatan jahat mereka, mungkin mereka akan berhenti membunuh.” Maka dengan suara yang enak didengar, ia mengajarkan Kebenaran kepada mereka melalui syair ini, —
Jika mengetahui hukuman yang timbul adalah lahir
dalam kesengsaraan, mereka yang hidup akan berhenti
melakukan pembunuhan.
Malapetaka adalah buah bagi seorang pembunuh.
Setelah Sang Mahasatwa mengajarkan Kebenaran, para pendengarnya merasa takut pada penderitaan di neraka; orang-orang yang mendengar perkataannya, takut terhadap penderitaan yang ada di neraka, sehingga mereka berhenti membunuh. Dan Bodhisatta sendiri, setelah berhasil membuat mereka menjalankan sila melalui Dhamma yang dibabarkannya, meninggal dunia dan terlahir kembali di alam bahagia. Orang-orang itu juga, mereka yang tetap setia pada ajaran Bodhisatta, menghabiskan hidup dengan berdana dan melakukan perbuatan baik lainnya, setelah meninggal terlahir kembali di alam dewa.
____________________
Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru mempertautkan antara kedua kisah itu dan menjelaskan tentang kelahiran itu dengan berkata, “Di masa itu, Saya adalah dewa pohon.”
http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka ... ta-jataka/