Buddha merupakan agama tertua kedua di Indonesia, tiba pada sekitar abad keenam masehi. Sejarah Buddha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu, sejumlah kerajaan Buddha telah dibangun sekitar periode yang sama.
By Lifin88
#5651
摘自: 蓮生活佛著作 53_佛與魔之間--恐懼魔來也入魔
Dikutip dari : Karya GM Sheng-yen Lu buku ke 53 Between the Buddha and the Mara – Gentar akan mara juga kemasukan mara.
Translated by : Minarto Yang Ying Min

“Sakayamuni Buddha pernah berkata, segala kesulitan mara di dunia yang fana ini, sebenarnya hanya ada satu sebab, disebabkan pada awalnya dalam diri sadhaka muncul keraguan maka kemasukan mara, munculnya keraguan ( maksudnya: pikiran dalam hati bergerak, dipengaruhi oleh hal yang tampil di permukaan), hati yang semula bersih berubah menjadi gelap, ada yang jadi terdengar suara mara, ada yang melihat bayangan mara. Hati seseorang, jika menyatu dengan pikiran yang negatif, …jadinya akan terlihat segala wujud mara."

Buddha berkata, kondisi yang demikian, seperti pohon yang tertiup angin, pohon akan bergoyang-goyang, seperti bulan yang terhalang awan, bumi akan menjadi gelap, teorinya adalah sama, hati yang terkontrol (maksudnya: bisa mengontrol hati, stabil dan tidak terpengaruh dengan kondisi apapun) adalah sangat penting, sebenarnya mara adalah juga bersifat sunya, … para mara adalah abstrak dan bukanlah sesuatu yang nyata.

Saya tidak bisa diganggu kiri kanan oleh mara, bukan mengandalkan Saya mempunyai ilmu gaib, melainkan Saya melihat segala wujud duniawi adalah kosong, segala mara adalah kosong. …. Saya sering bilang, tiada hati maka tiada mara.

… Pesan Saya kepada pembaca: sadhaka yang melatih jalan kebenaran harus melatih hati, sadhaka yang melatih sadhana harus melatih hati, inilah [Buddha]. Melatih sadhana tidak melatih hati, jadilah [mara].

‎"Ada orang sering bertanya: [ Master Lu, badanku bisa gemetar, apakah saya tidak normal.]

[ Master Lu, setiap saya meditasi tanpa sadar terlelap, apakah ada mara yang menganggu.]

[ Master Lu, dalam meditasi, saya melihat sepasang mata melotot ke saya, apakah ini adalah mara?]

[ Master Lu, badan saya semuanya sakit ngilu, terasa sangat lemas, apakah energiku dicuri mara.]

[ Master Lu, setiap dalam kondisi roh terbangkitkan, tangan dan kaki bergerak menari, dalam hati sangatlah takut, tidak tahu yang datang adalah dewa, atau justru mara, bagaimana ini?] ………… .

Surat yang demikian, sangatlah banyak. Saya bilang, sama sekali jangan [takut]. Kalau berlatih secara membabi buta tentunya tidak baik. Sebagian sadhaka tidak menjadi Buddha, melainkan menjadi dewa yang sesat, raja mara, kerabat mara, ini dikarenakan tidak memahami Buddhadharma sejati, ini adalah akibat dari berlatih secara membabi buta ( maksudnya: sembarangan bersadhana ). Tetapi, anda gentar terhadap mara juga tidak betul, karena kalau anda gentar terhadapnya, berarti anda tidak mengerti dia, semakin anda gentar, semakin mara akan menghantui terus menerus tanpa henti.

Kita harus memakai dua sikap cara dalam pelatihan:

Kesatu, jangan melekat [ gentar akan mara], anda sama sekali tidak memikirkan mara, juga tidak perlu takut, berarti juga jangan melekat akan segala hal, anda harus menganggap segala fenomena penampakan dalam pelatihan di dunia ini menjadi kosong dan hampa, Buddha datang tidak perlu gembira, mara yang datang tidak miris, ini adalah hati yang[ tiada lekat ] ( maksudnya: hati tiada kemelekatan ), dengan memupuk kemampuan hati yang demikian, dan dikarenakan mara tidak mempunyai dasar untuk melekat ( maksudnya mara tiada tempat bernaung), maka tidak bisa melekat. Karena mara ada adalah dari kondisi ada landasan, harus bisa dikondisikan dalam hati tiada landasan ( maksudnya: di dalam hati sama sekali tidak ada wujud dan pikiran akan mara ), barulah ‘tiada hati’ yang sebenarnya, sebaliknya kalau [wujud] apapun yang muncul, anda tidak usah gentar, tidak bergembira maupun sedih, …, pada dasarnya mara tidak bisa melekat, ini adalah sikap yang sangat penting bagi seorang sadhaka, tidak boleh mati ketakutan."

‎" Kedua, kalau orang kerasukan mara, mulanya disebabkan oleh [terbius] . Orang yang kerasukan mara dikarenakan [ terbius tanpa dasar yang jelas ] ( maksudnya: terbius oleh apa yang tampak, tidak bisa membedakan mana yang benar ), jadi sebagai seorang sadhaka, sejak semula bersarana kepada Mula Acarya, dengan adanya perlindungan cahaya suci dari Mula Acarya, …sadhaka, harus dengan sepenuh hati menerima Buddhadharma ( maksudnya: memohon Buddhadharma dari Secun, tekun berlatih segala ajaranNya ), bersarana, persembahan, tidak boleh merasa diri sendiri sudah hebat dan jago ( maksudnya: sombong ), harus berlatih [ simabhandana diri / perlindungan diri ], sehari-hari mempertahankan pemikiran positif dan daya pikir yang bijaksana, baik Buddha maupun mara yang datang, akan bisa jelas dibedakan satu pesatu, namun tidak melekat. Pelatihan yang mendalam, tawar akan nama besar, tidak terperangkap 6 indera, dengan sendirinya tiada mara.

Ada seorang yang suka bermeditasi.

Dia, pada suatu ketika, dalam meditasi, perasaan hati melayang ke angkasa yang tinggi, seperti terbang melayang di antara awan, hati sangat tidak gembira, namun melayang sudah terlampau tinggi, ada perasaan gentar, lantas terjatuh kembali. Juga suatu ketika, bada terasa jatuh ke bawah, seperti jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar, dia pikir sudah jatuh ke dasar bumi, begitu hatinya muncul rasa takut, jadinya berhenti lagi.

Dia berpikir, melatih tao ada istilah [ masuk ke api tidak terbakar], [ masuk ke air tidak mengapung], apakah bisa melatih ilmu gaib ini ? Dia tiap hari kepikiran [ masuk ke api tidak terbakar], [ masuk ke air tidak mengapung]. Saat dalam meditasi, sekelilingnya lantas keluar teratai api. [Teratai api] ini mengeluarkan lidah api, dia duduk di dalam teratai api yang berwarna merah. Juga di dalam meditasi, dia tiba di dasar laut, malahan bisa bernafas dengan normal, bisa melihat ikan berenang di dasar laut!

Apa yang dia pikirkan, dalam hati lantas muncul khayalan seperti yang dia bayangkan, dia hidup dalam khayalan. Saat ini dia mulai menyukai dunia khayalan ini, menyukai berbagai perubahan kesaktian Bodhisattva. Begitu muncul perasaan suka ini, mara langit lantas mengambil kesempatan menempati badan orang ini, memberi di sedikit [ kemampuan komunikasi ], [ kemampuan membaca hati orang ], tapi kemampuan seperti ini, adalah kesaktian palsu dari mara,tentunya bukan Buddha Bodhisattva sejati."

‎" Suatu hari, mara langit memberitahu dia, dia sudah mempunyai kekuatan [ masuk api tidak terbakar], jadinya, dari pengalaman dulu-dulu membuat di sangat yakin, tanpa keraguan sedikitpun.

Dia lantas dengan menggunakan alkohol membakar tangan sendiri.

Menyulut api membakar tangan.

Kita juga tahu akibatnya, tangannya terbakar gosong.

Ada lagi satu orang, dia sangat gentar akan [mara], tapi juga sangat ingin tahu. Dia pertama kali meditasi sudah melihat [mara], lidahnya menjulur panjang-panjang, di atas kepala tumbuh tanduk, kedua mata melotot beringas, penampilan sangat ganas, masih bagus kalau tidak takut. Karena melihat rupa yang begitu ganas, hati menjadi takut, akhirnya menjadi sakit.

Akhirnya, Sayalah yang menolongnya.

Makna dari artikel ini adalah, tidak bergembira tidak sedih tidak gentar, mara tiada tempat bernaung. Sadhaka melihat segala gunung sungai daratan luas di dunia ini bagaikan barang cerminan ( maksudnya: seperti barang yang dipantulkan oleh cermin ), barang datang nyata, barang pergi menjadi kosong ( maksudnya: saat terjadi sesuatu hal, kita boleh belajar dan mawas diri, saat suatu kejadian selesai ,kita juga tidak melekat), dengan demikian maka kita tidak akan kerasukan mara.”