Buddha merupakan agama tertua kedua di Indonesia, tiba pada sekitar abad keenam masehi. Sejarah Buddha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu, sejumlah kerajaan Buddha telah dibangun sekitar periode yang sama.
#6294
Sabda Buddha Sakyamuni Mengenai Lenyapnya Bumi
Sumber : https://sinarnurani.wordpress.com/2013/ ... pnya-bumi/

Sutta Pitaka-Anguttara Nikaya-7.Sattaka-Mahavagga-Sattasuriya Sutta.

Demikian yang kudengar. Suatu ketika, Sang Bhagava tinggal di kebun mangga milik Ambapali. Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu:
“Para bhikkhu, fenomena adalah berubah, tidak tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

Para bhikkhu, puncak tertinggi dari Himalaya, adalah delapan puluh empat ribu yojana di atas permukaan laut, delapan puluh empat ribu yojana lebarnya. Delapan puluh empat ribu yojana dalamnya di dalam laut.

Para bhikkhu, setelah lewat banyak tahun, beratus ribu tahun, akan ada masanya ketika tidak ada hujan. Ketika tidak ada hujan, semua biji-bijian dan tumbuhan seperti rumput obat, pohon dan hutan, mengering dan menghilang. Para bhikkhu, demikianlah fenomena adalah berubah, bukan tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

Para bhikkhu, setelah lewat banyak tahun, beratus ribu tahun, akan ada masanya ketika matahari ke dua muncul. Ketika matahari ke dua muncul, semua kali dan sungai kecil mengering dan menghilang. Para bhikkhu, demikianlah fenomena adalah berubah, bukan tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

Para bhikkhu, setelah lewat banyak tahun, beratus ribu tahun, akan ada masanya ketika matahari ke tiga muncul. Ketika matahari ke tiga muncul, sungai-sungai besar seperti Gangga, Yamuna, Aciravati, Sarabhu dan Mahi mengering. Para bhikkhu, demkianlah fenomena adalah berubah, bukan tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

Para bhikkhu, setelah lewat banyak tahun, beratus ribu tahun, akan ada masanya ketika matahari ke empat muncul. Ketika matahari ke empat muncul, danau besar yang ditopang oleh sungai-sungai besar, seperti Anotatta, Sihapapata, Rathakara, Kannamunda, Kunala, Chadanta, dan Mandakini, mengering dan menghilang. Para bhikkhu, demikianlah fenomena adalah berubah, bukan tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

Para bhikkhu, setelah lewat banyak tahun, beratus ribu tahun, akan ada masanya ketika matahari ke lima muncul. Ketika matahari ke lima muncul, air di samudra besar berkurang sampai seratus yojana, dua ratus yojana, tiga ratus yojana, lima ratus yojana, enam ratus yojana dan tujuh ratus yojana. Ia berkurang tingginya hingga ketinggian tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua dan bahkan satu pohon palem. Ia berkurang hingga ketinggian tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua dan bahkan satu orang. Ia itu berkurang hingga mencapai tinggi setengah manusia. Ia berkurang hingga hanya sedalam lutut manusia, pergelangan kaki manusia. Ketika matahari ke lima muncul, tidak ada air di samudra untuk merendam jari. Para bhikkhu, demkianlah fenomena adalah berubah, bukan tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

Para bhikkhu, setelah lewat banyak tahun, beratus ribu tahun, akan ada masanya ketika matahari ke enam muncul. Ketika matahari ke enam muncul, bumi yang besar dan puncak Himalaya berasap dan tertutup dengan asap. Seperti ketika tembikar dimasak. Demikianlah ketika matahari ke enam muncul, bumi yang besar dan puncak Himalaya berasap, tertutup dengan asap seperti ketika tembikar dimasak. Para bhikkhu, demkianlah fenomena adalah berubah, bukan tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

Para bhikkhu, setelah lewat banyak tahun, beratus ribu tahun, akan ada masanya ketika matahari ke tujuh muncul. Ketika matahari ke tujuh muncul, bumi yang besar dan puncak Himalaya menyala dan terbakar. Ketika bumi yang besar dan puncak Himalaya menyala dan terbakar, api yang dilontarkan oleh angin mencapai alam Brahma. Ketika puncak Himalaya terbakar, puncak setinggi seratus yojana, dua ratus yojana, tiga ratus yojana, empat ratus yojana, dan lima ratus yojana, hancur. Para bhikkhu, ketika bumi dan puncak Himalaya terbakar abu dan cairan abu tidak terlihat. Para bhikkhu, demkianlah fenomena adalah berubah, bukan tetap, tidak ada yang menyenangkan di dalamnya, maka sesuai bagi kalian untuk berpaling, tidak melekat dan terbebaskan dari segala fenomena.

Para bhikkhu, ketika bumi dan puncak Himalaya terbakar, apapun perkataan surgawi dan kepercayaan, juga terbakar dan hilang, akankah pandangan benar yang dicapai tetap tersisa?

Para bhikkhu, di masa lalu ada seorang guru bernama Sunetta, seseorang yang bebas dari keserakahan yang membantu menyeberang arus. Guru Sunetta memiliki banyak ratus murid. Para bhikkhu, sang guru mengajar agar terlahir di alam Brahma. Mereka yang telah mengetahui ajaran Sunetta secara lengkap, setelah kematian, akan terlahir di alam Brahma. Sebagian yang tidak mengetahui dengan lengkap ajaran Sunetta, setelah kematian, terlahir sebagai “Penguasa Ciptaan Lain”. Sebagian lagi terlahir sebagai “Pencipta”, “Yang Bahagia”, “Yama”, sebagian di alam tiga-puluh-tiga dan dewa penjaga. Sebagian lain terlahir di kasta tinggi khattiya, Brahmana , dan perumah tangga.
Kemudian muncul pikiran pada sang guru Sunetta. ‘Adalah tidak sesuai bagi saya setelah kematian, terlahir di alam yang sama dengan para pengikut saya. Bagaimana jika saya kembangkan cinta kasih lebih jauh.’
Kemudian Guru Sunetta mengembangkan cinta kasih selama tujuh tahun. Setelah mengembangkan cinta kasih selama tujuh tahun, dia tidak kembali lagi ke dunia ini selama tujuh kalpa pengembangan dan penyusutan. Semasa kalpa pengembangan, ia lahir di alam dewa cahaya memancar dan semasa kalpa penyusutan, ia terlahir di alam Brahma kosong. Di sana, ia adalah Brahma tertinggi yang memegang kuasa penuh. Ia berada dalam keadaan itu tujuh kali, tiga puluh enam kali ia menjadi Sakka, raja para dewa. Tidak terhitung banyaknya ia menjadi raja dunia, penakluk empat penjuru dan negara-negara. Para bhikkhu, ia terberkahi dengan tujuh permata seperti permata roda, gajah, kuda, batu permata, wanita, perumah tangga, dan penasihat. Para bhikkhu, ia memiliki lebih dari seribu putra yang berani dengan sosok perkasa yang menghancurkan kekuatan asing. Mereka hidup menguasai dunia dengan kebenaran, bukan senjata sejauh batas samudra. Para bhikkhu, guru Sunetta dengan umur panjang dan kejayaan demikian tidak terbebaskan dari kelahiran, ketuaan, kematian, kesedihan, ratap tangis, ketidaksenangan dan penderitaan.

Saya katakan, tidak terbebas dari penderitaan. Mengapa demikian? Karena tidak menembus dan mengalami empat hal. Apakah empat itu? Tidak menembus moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan dan kebebasan para mulia. Sekarang ia telah menembus moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan dan kebebasan para mulia. Keinginan telah dicabut akarnya, pemimpin telah dihancurkan. Sekarang ia tidak lagi memiliki kelahiran.”

Kemudian Sang Bhagava berkata lebih lanjut:
“Gotama yang terkenal, telah menembus moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan dan kebebasan mulia, dan menyatakan ajaran untuk mengakhiri penderitaan, telah padam.

Sumber : http://www.dhammacakka.org/forum/showth ... ya%20Sutta