Buddha merupakan agama tertua kedua di Indonesia, tiba pada sekitar abad keenam masehi. Sejarah Buddha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu, sejumlah kerajaan Buddha telah dibangun sekitar periode yang sama.
By Lifin88
#6992
Book: Besahabat dengan Kehidupan, Memaknai dengan Kearifan | oleh: YM. Sri Pannavaro Mahathera |pages : 107 – 148

Munculnya Kebahagiaan

Kebahagiaan bisa muncul kalau ada kondisi yang membuat kita bahagia. Kalau kita sedang duduk-duduk atau sedang berjalan kemudian tiba-tiba ingat tentang kebahagiaan, lalu dengan serta-merta kita ingin bahagia; tidak mungkin kita bisa merasakan kebahagiaan saat itu juga. Mengapa demikian? Karena tidak ada sebab yang bisa membuat munculnya rasa bahagia. Jadi, kebahagiaan itu baru bisa muncul kalau memang ada kondisi, ada sebabnya.

Kalau anak naik kelas, kita akan bahagia. Kalau anak sudah lama kuliah, kemudian bisa selesai, bisa diwisuda, kita merasa bahagia. Kalau usaha kita maju, kita merasa bahagia. Tetapi, kalau tanpa ada kondisi, tanpa ada sebab, tanpa ada jalaran (faktor yg menyebabkan), maka tidak mungkin kita tiba-tiba merasa bahagia. Harus ada sebabnya, harus ada pendorongnya, harus ada kondisi yang bisa menimbulkan kebahagiaan itu.

Jadi, kalai kita lihat, kebahagiaan itu tergantung pada kondisi, tergantung pada sebab. Hanya saja kondisi-kondisi atau sebab-sebab yang di luar diri kita itu tidak memegang peranan utama, karena yang memegang peranan utama untuk bahagia adalah kondisi yang ada di dalam diri kita sendiri.

Kalau kita selalu berpikir, “Jika tidak ada kondisinya, tidak ada sebabnya, tidak ada jalarannya, tidak mungkin kita tiba-tiba bahagia, maka tentu kebahagiaan kita ini tergantung pada kondisi.” Saya mengatakan tidak sepenuhnya benar, meskipun ada benarnya juga. Kondisi yang di luar itu adalah kondisi yang bisa membuat kita bahagia, tetapi bukan yang utama. Kondisi utama yang membuat kita bahagia atau tidak bahagia adalah faktor yang ada di dalam dirii kita, yaitu bagaimana sikap kita menghadapi kondisi yang terjadi di luar itu.

* * *

Cepat Berubah

Sepasang suami-istri bertemu dengan saya. Mereka minta restu supaya anak perempuan satu-satunya bisa lulus ujian pendadaran. Suami-istri ini miskin, membuka warung kecil, rumahnya kontrak di pinggir kota. Mereka datang dengan serius. Saya memberikan nasihat dan dorongan kepada anaknya.

Beberapa hari kemudian mereka datang lagi. Dan saya melihat wajah mereka berseri-seri, senang bahwa anak mereka lulus, tidak tertunda. Mereka merasa itulah harapan satu-satunya bagi orang miskin. Kebahagiaan itu timbul karena anak mereka lulus. Kebahagiaan itu timbuk karena ada kondisinya. Tetapi, kurang lebih seminggu kemudian, mereka datang lagi dan sudah sangat-sangat berubah kebahagiaan yang mereka ceritakan, yang mereka dambakan dengan ketulusan anak tunggal perempuannya itu, seperti tidak berbekas lagi. Tenggelam, kalah, karena sekarang mereka harus pindah rumah. Rumah kontakanya tidak bisa diperpanjang lagi dan mereka harus segera pindah. Mereka tidak punya materi, tidak punya cukup uang. Bagaimana cara mereka harus menyelesaikan itu, kemana mereka harus pergi?

Jadi pada saat mereka dihadapkan pada persoalan yang primer, semua yang disebut bahagia itu lenyap. Mereka sangat kesulitan, sudah kehabisan akal. Mereka berpikir, “Sudah tidak ada jalan lagi. Bagaimana kami harus menyelamatkan hidup kami kalau kami harus pindah?” Saya hanya memberi nasihat dan mengingatkan bahwa mereka harus berusaha, bahwa mereka tidak sakit, tidak lumpuh; karena itu usaha harus dilakukan. Saya memberi dorongan semangat. Kemudian mereka pulang.

Sebulan kemudian mereka datang lagi dan sudah berseri-seri kembali, senang kembali. Karena tiba-tiba salah satu saudaranya menawarkan, “Pakailah rumah saya dulu setahun. Nanti kalau sudah setahun kita runding kembali. Dalam waktu setahun ini, semoga anak Anda yang baru saja lulus bisa mendapat pekerjaan sehingga Anda tidak terombang-ambing. Tahun depan kita runding kembali.”

Dari cerita ini kita bisa melihat, begitu cepatnya orang berubah. Dari serius, senang karena anaknya lulus, susah sekali karena harus pindah, kemudian senang lagi karena mendapatkan bantuan rumah. Begitu cepatnya kondisi itu mengombang-ambingkan seseorang. Mereka yang terlibat langsung dengan persoalan mungkin akan melihatnya tidak seperti saya. Tetapi, saya yang tidak terlibat, saya melihat dan berpikir, “Mengapa begitu?” Begitu suatu kondisi muncul, mereka merasa bahagia; begitu kondisi yang lain muncul, mereka merasa menderita; begitu kondisi yang lain muncul lagi, dia merasa bahagia lagi. Terus begitu. Itulah timbul tenggelamnya kebahagiaan. Itulah yang disebut dengan kebahagiaan. Persis, demikianlah penjelasannya.

* * *

Perubahan

Tidak ada yang kekal di alam semesta ini, semuanya berubah. Apakah yang tidak berubah? Apa saja berubah! Perubahan memang dapat membawa kemajuan. Yang kecil menjadi besar, yang dulu tidak mampu sekarang hidupnya lebih baik, yang di bawah kemudian bisa naik. Semua itu terjadi karena adanya fenomena perubahan. Kalau tidak ada perubahan, tidak akan ada kemajuan.

Kalau kita mengalami kesulitan yang sulit dipecahkan, tetapi kita menyadari bahwa di dunia ini semuanya terkena perubahan, maka akan timbul optimisme, timbul harapan bahwa persoalan apapun juga akan berubah. Kalau memang persoalan-persoalan itu tidak berubah, tentu kondisi, faktor lingkungan yang mengelilingi persoalan itu akan berubah. Tetapi, seandainya persoalan dan kondisinya tidak berubah dan kita sulit menerima hal atu keadaan itu, seiring dengan berjalannya waktu, tentu timbul perubahan di sekitar kita, maka pemikiran kita juga berubah. Kalau sebulan yang lalu sangat sulit menerima, sekarang kita sudah siap untuk menerimanya.

Perubahan memberikan semangat kita untuk hidup, perubahan memberikan kekuatan kepada kita untuk menghadapi persoalan, karena di dunia ini, apakah yang tidak berubah? Persoalan yang pelik, persoalan yang sulit, juga berubah; lingkungan juga berubah; dan tanggapan pikiran kita juga berubah. Perubahan membuat kita bertahan, tidak patah semangat, tidak putus asa.

Perubahan memberikan daya tahan, perubahan membuat seseorang untuk bertahan dengan penuh keuletan dan kesabaran. Kesabaran dan keuletan dalam bertahan menghadapi persoalan akan mampu kita lakukan kalau kita menyadari dengan sungguh-sungguh tentang hukum perubahan. Mengapa kita tidak bisa bertahan? Mengapa kita begitu berkecil hati? Mengapa kita tidak ingat bahwa masalah itu juga akan berubah? Faktor-faktor yang membuat masalah itu muncul pasti akan berubah, lingkungan kita akan berubah dan cara berpikir kita pun juga akan berubah. Perubahan menimbulkan daya tahan, menimbulkan keuletan, menimbulkan kesabaran. Perubahan memberikan harapan bagi kita untuk maju, mengisi dan menyelesaikan kewajiban kehidupan ini.

Tetapi, perubahan juga bisa membawa kehancuran, yang muda menjadi tua, yang sehat menjadi sakit, yang di atas kemudian turun ke bawah, yang sukses kemudian mengalami kegagalan; semua kejadian itu juga karena perubahan. Dari besar menjadi kecil juga perubahan. Bukan hanya dari yang kecil menjadi besar saja. Dari untung sedikit menjadi untung banyak adalah perubahan, tetapi dari untung banyak menjadi untung sedikit juga perubahan. Kemerosotan juga perubahan. Kegagalan, bencana, musibah, kemunduran, kelesuan, itu pun perubahan.

* * *
By Lifin88
#6993
Penuh Ketergantungan

Apa yang biasa disebut kebahagiaan sesungguhnya adalah kebahagiaan yang penuh dengan ketergantungan. Kebahagiaan muncul karena ada sesuatu yang menyebabkan kebahagiaan itu muncul. Oleh karena itu, kebahagiaan tergantung pada apa yang menyebabkan munculnya kebahagiaan. Misalnya, saya bahagia karena saya mempunyai mobil yang baik, kebahagiaan saya tergantung pada mobil; saya bahagia karena anak-anak saya tidak membuat persoalan, tidak nakal, kebahagiaan tergantung pada anak-anak; saya bahagia karena bisa mempunyai pekerjaan yang sesuai, kebahagiaan tergantung pada pekerjaan.

Akan tetapi, apabila yang menjadi gantungan kebahagiaan itu berubah merosot, lenyaplah kebahagiaan itu, kebahagiaan itu ikut berubah juga. Manusia mengatakan perubahan itu sebagai bencana, sebagai musibah, sebagai kegagalan, sebagai kekecewaan. Musibah, bencana, kegagalan, kekecewaan ini adalah konsep. Konsep itulah yang membuat kita tidak berpikir positif, “Ah, saya gagal. Ah, saya sial. Bencana sudah terjadi, bahaya sudah terjadi.” Tetapi kalau kita melihat semua yang terjadi itu sebagai suatu proses, maka kita akan elihat proses itu sebagai sesuatu yang sangat wajar.

Misalnya satu saat anak kita menjadi nakal. “Saya tidak menduga dia akan berbuat senekat itu, mengapa dia bisa berbuat seperti itu?” Inilah proses. Sebagai orang tua, kita memberikan pendidikan dengan sebaik-baiknya, tetapi akhirnya dia menjadi seperti ini. Ini adalah proses. Kalau kita menganggap perubahan itu sebagai musibah, kalau kita menganggap perubahan itu sebagai kegagalan, maka timbulah penderitaan. Kalau kita menganggap perubahan itu sebagai proses, maka kita akan melihat kenyataan hidup ini.

Misalnya saya mempunyai benda yang sangat berharga. Suatu saat benda ini jatuh dan kemudian hancur. Kalau saya menganggap kejadian ini sebagai kerugian bagi saya, sial, bencana, musibah, maka timbulah duka. Itu berpikir yang tidak positif. Tetapi, kalau saya melihat bahwa apa yang hancur itu sebagai proses yang wajar – yang sangat wajar dari segala sesuatu – maka tidak akan timbul kekecewaan. Disitu kita akan melihat kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.

Cobalah kita melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Tidak dikotori dengan memberikan konsep yang bermacam-macam pada kejadian-kejadian di sekitar kita – yang akhirnya akan membuat kita mempunyai tanggapan yang sangat berbeda dibandingkan bila kita mampu melihat fakta kehidupan sebagaimana adanya.

Suatu saat misalnya kita mempunyai mobil. Kemudian datang berita bahwa mobil masuk ke jurang. Kalau kita menanggapi dengan berpikir, “Ah, ini bencana yang besar, ini kerugian yang sangat besar, sial, nasib jelek, bintang suram,” maka cara berpikir yang negatif seperti itu akan membuat kita menjadi negatif. Berpikirlah positif, kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan.

Segala sesuatu tidak kekal. Inilah sifat yang wajar dari segala sesuatu di alam semesta ini. Kalau kita melihat kejadian itu sebagai proses yang wajar; kalau kita melihat perubahan-perubahan itu sebagai sifat yang wajar dari segala sesuatu, maka tidak akan timbul kekecewaan di dalam pikiran kita.

* * *

Penderitaan

Penderitaan itu sesungguhnya mirip-mirip dengan kebahagiaan. Hanya saja, kalau kebahagiaan menyenangkan, penderitaan itu menjengkelkan. Kebahagiaan dan penderitaan yang kita rasakan itu bisa luntur. Sama-sama tidak kekal dan sama-sama menjadi beban mental. Mirip-mirip sesungguhnya, hanya yang satu menyenangkan, yang satu menjengkelkan.

Memang menjadi kewajiban kita untuk mencari sebabnya, “Apakah yang menyebabkan saya menderita?” Kemudian kita berusaha untuk mengatasi. Dan kalau kita tidak bisa mengatasinya, atau tiba-tiba muncul perasaan yang tidak senang, biarkanlah saja. Kita gunakan kesadaran kita, kita gunakan perhatian kita untuk menyadari bahwa sekarang , ini saya sedang tidak senang, sedang menderita, sedang jengkel, sedang marah, suasana batin kita sedang tidak baik. Kita sadari saja. Biarkan saja. Karena secara alami, secara natural, dengan tidak perlu ditangkal, tidak perlu disingkirkan; perasaan tidak bahagia, perasaan yang tidak senang itu, yang menjengkelkan itu, rasa bosan itu nanti akan turun dengan sendirinya, tenggelam sendiri. Perasaan bosan itu nanti juga akan bosan sendiri dan kemudian lenyap.

Kesulitan itu kalau dihadapi, disadari, akan menjadi biasa. Karena semua itu adalah perubahan. Perubahan dari yang menyenangkan menjadi yang tidak menyenangkan, kita namakan penderitaan. Padahal kalau kita melihat sebenarnya hal itu adalah proses perubahan semata.

Ada satu orang yang datang kepada seorang guru meditasi. Orang ini mengeluh, sekarang hidupnya sulit. Kalau dulu selalu mengantongi uang, minimal sepuluh ribu, sekarang seribu saja sulit sekali, sekarang dihimpit hutang. Guru menjawab dengan sederhana, “Itu karena Anda belum terbiasa!”

* * *

Berputar-putar

Cobalah mengamat-amati penderitaan itu, “Mengapa saya menderita?” Kalau kita tidak mau melakukan cara pengamatan ini, penderitaan tidak akan berhenti. Mengapa? Karena kita akan masuk ke dalam lingkaran setan. Kita kecewa disini, kita pergi kesana, mencari yang tidak mengecewakan kita, lalu kita senang disana. Nanti disana kita kecewa, kita pergi ke tempat lain. Nah, disitu kita mendapatkan kesenangan lagi. Disitu kita kecewa lagi, cari lagi kesenangan yang lain. Nah, kita senang lagi di tempat lain. Di temapat itu kita menderita, kecewa, jengkel, lalu kita pergi lagi mencari yang lain. Demikian seterusnya, tidak akan ada habis-habisnya.

Kita terus mengalami penderitaan, karena kita hanya menghindar dan menghindar, lari mencari yang lain. Tidak pernah berusaha mempunyai pengetahuan, “Mengapa saya menderita?” Selama kita tidak mempunyai pengetahuan mengapa saya menderita, kita akan menderita terus-menerus. Karena cara kita menghadapi penderitaan itu hanya menutupi saja. Menutupi semua yang membuat kita tidak senang, kecewa, jengkel, membuat marah. Kita selalu menutupi untuk sementara.

Usaha kita senantiasa kita kerahkan untuk mencari yang lain, yang bisa membuat kita senang, bahagia, dan puas. Kalau sesuatu membuat kecewa, tidak senang, bosan, kemudian ditutupi, cari yang lain, begitu seterusnya. Semakin banyak kita mempunyai uang, kekuasaan, serta fasilitas, makin keras kita mencari. Tidak senang sedikit saja, kita sudah pindah. Memang itu sangat wajar. Siapakah yang mau menderita? Kita tidak mau menderita. Tetapi, cara agar tidak menderita, cara untuk menghentikan penderitaan itu tidaklah bijak, tidak tepat, sehingga bukannya menghentikan penderitaan, tetapi terus mengulangi dan menimbulkan penderitaan kembali. Terus begitu. Lenyap kemudian cari yang lain; hilang lalu cari yang lain; kecewa, cari yang lain; jengkel, cari yang lain. Demikian seterusnya.

Bukankah begitu yang lazim dilakukan? Agar supaya tidak mengalami penderitaan, tidak mengalami kekecewaan, tidak mengalami rasa tidak senang, maka kita mencari yang lain, mengubah sana, mengubah sini, pergi sana, pergi sini, buat ini, buat itu. Hal ini kita lakukan supaya bisa senang terus, enjoy terus, bahagia terus. Tetapi, harus diingat bahwa senang, enjoy, dan bahagia itu akan berubah menjadi bosan, lalu menderita. Begitulah kita ini.

* * *
By Lifin88
#6994
Siap Menerima Perubahan

Siap menerima perubahan adalah sesuatu yang amat-amat sulit. Bisa bertemu dengan makhluk halus, jin, setan, genderuwo, itu tidak gampang. Apalagi bisa kontak, bisa omong-omong, itu sulit sekali. Tetapi, yang lebih sulit dari berkomunikasi dengan makhluk halus adalah siap menerima perubahan. Itu lebih sulit dari melihat makhluk halus. Lebih sulit dari bisa berkomunikasi dengan makhluk halus.

Kalau misalnya seorang teman kita memakai pakaian putih-putih, tiba-tiba bertemu dengan kita. Kita bertanya, “Dari mana siang-siang begini?” “Saya baru saja melayat teman saya. Tadi malam masih bermain catur, masih tertawa-tertawa, masih omong-omong. Eh, tadi pagi setelah bangun tidur, duduk, tiba-tiba meninggal. Saya merasa kehilangan. Saya tidak habis berpikir mengapa bisa begitu? Saya merasa terpukul.” Kita mungkin bisa mengatakan, “Tidak perlu terpukul, memang dalam hidup ini kelahiran selalu berpasangan dengan kematian.” Kita bisa menasihati dengan arif, tenang, dan bijaksana.

Tetapi, kalau nanti ada utusan yang memberitahukan kita bahwa ibu, atau suami, atau anak kita meninggal, bisakah kita bersikap arif? “Ya, dalam kehidupan ini lahir pasti berpasangan dengan mati.” Kita sulit berbicara begitu; karena ada kemelekatan, karena ada kerinduan. Kita sulit menghadapi suami meninggal, istri sakit, anak meninggal, rumah terbakar, mobil rusak, sulit sekali. Dipecat dari kedudukan, terkena PHK, diturunkan pangkatnya, sulit sekali menerimanya. Ini lebih sulit bila dibandingkan dengan kemampuan melihat makhluk halus.

Kalau kita membiasakan mengenal bahwa hidup ini perubahan, maka stress akan turun. Saya mengatakan bahwa senang sekali, lengket, melekat pada sesuatu itu adalah hal yang tidak masuk akal, tidak logis. Bukan karena ajaran agama tidak membolehkan, tetapi karena hal itu tidak masuk akal, tidak logis. Kerap kali kita melekat pada sesuatu yang bisa berubah, baik pada orang, pada benda, keadaan, atau suasana. Semua itu bisa berubah. Mengapa melekat pada sesuatu yang bisa berubah? Bukankah akan menjadi sumber penderitaan, sumber kekecewaan.

Yang masuk akal adalah kalau kita melekat, cinta sekali, suka sekali, pada sesuatu yang kekal. Itu baru masuk akal, karena tidak akan menjadi sumber penderitaan. Tetapi, kalau melekat pada sesuatu yang bisa berubah, itu tidak logis, tidak masuk akal. Kalau melekat pada sesuatu yang bisa berubah, nanti jika yang disenangi, yang dilekati itu berubah merosot atau rusak, kecewalah kita. Dan segala sesuatu pasti berubah! Di dunia ini tidak ada sesuatu yang tidak berubah. Perubahan adalah sifat yang dominan, yang terlihat sangat mencolok dalam kehidupan ini.

Jadi, punyailah kesiapan mental untuk setiap saat siap menghadapi perubahan. Kita harus memperbaiki yang rusak supaya menjadi bagus. Kita harus membangun yang lebih baik, tetapi harus siap setiap saat kalau perubahan yang mengakibatkan kemunduran atau kelapukan datang. Hanya itu! Bukannya tidak boleh maju; bukannya kita malas; bukannya kita pesimis. Mari kita maju, kita gunakan tenaga, kesempatan yang ada, kemampuan kita. Punyailah cita-cita yang sesuai dengan kemampuan Anda. Gunakan cara yang baik, maju, tetapi siap setiap saat kalau perubahan datang.

Kalau tidak siap menghadapi perubahan, kita akan mengalami stress. Dan itulah penderitaan, itulah ketidak-bahagiaan. Berapa lama kita tidak bisa menerima perubahan yang tidak menyenangkan; makin lama kita belum bisa menerima, stess kita makin bertambah; makin cepat bisa menerima perubahan yang sudah terjadi itu, stress kita makin cepat lenyap, segera timbul keseimbangan mental. Terimalah perubahan sebagai kewajaran. Terimalah perubahan, kematian, kehancuran, bukan sebagai musibah, bukan sebagai sial, bukan sebagai nasib jelek, tetapi sebagai kewajaran. Memang sudah sewajarnya dunia ini berubah, sudah sewajarnya kehidupan ini berubah. Terimalah perubahan ini sebagaimana wajarnya. Itulah kehidupan.

* * *

Tidak Bisa Menerima Perubahan

Sesungguhnya stress itu terjadi karena tidak bisa memahami perubahan yang ada. Dampat stress adalah ketegangan, kepala sakit separuh, mencret-mencret, dan sebagainya. Dia tidak bisa, tidak mau, atau tidak mampu memahami perubahan yang terjadi. Dia sudah melihat perubahan itu, tetapi perubahan yang sudah terjadi tidak disenanginya. Dia tidak bisa menerima perubahan itu, padahal perubahan sudah terjadi. Timbullah ketegangan. Kalau sebentar tidak apa-apa. Tetapi, kalau ketegangan terjadi berlarut-larut, itu merugikan, bahkan mungkin membahayakan. Itulah yang disebut stress. Perubahan tidak bisa dihindari. Segala sesuatu tidak abadi, tidak kekal.

Kalau orang suka membanggakan ketampanan atau kecantikannya, nanti rambutnya putih sedikit sudah stress. Lalu disemir agak tampak hitam kembali. Tetapi, rutinitas menyemir rambut tiap tiga hari atau seminggu sekali akan menimbulkan stress yang baru lagi. Dia tidak bisa atau tidak mau menerima perubahan yang sudah terjadi. Hal ini menimbulkan ketegangan yang berkelanjutan, dan ketegangan yang berkelanjutan ini menimbulkan penyakit.

Saya baru mendengar cerita, kalau seorang sudah berusia 50 tahun ke atas, apalagi sudah 60 tahun ke atas, 75% gejala-gejala penyakit seperti rematik, sesak napas, gemetar, jantung berasal dari kejiwaan. Hanya 25% yang betul-betul sakit fisik. Jadi kalau kita sudah berusia 50 tahun ke atas, kita harus berhati-hati jangan sampai pikiran merusak jasmani. Karena 75% penyakit jasmani berasal dari pikiran, hanya 25% yang murni jasmani.

* * *
By Lifin88
#6995
Sejak Lahir Sudah Stress

Seorang psikolog memberitahukan kepada saya, “Mengapa kita harus takut dengan stress, mengapa kita harus merasa ngeri, jerih dengan stress? Karena sejak kita dilahirkan – sejak baru saja keluar dari perut ibu – sesungguhnya kita sudah dilatih untuk menghadapi stress.”

Psikolog ini bercerita. Pada waktu bayi di dalam kandungan, keadaannya tenang, tidak ada suara keras yang menembus ke dalam kandungan. Tenang, sunyi, dan hangat. Tetapi, waktu bayi dilahirkan, pada ssat itulah untuk pertama kalinya seorang bayi terkena stress. Apakah yang terjadi? Begitu dilahirkan di rumah sakit, di kamar operasi, biasanya suhu pendingin ruangan diatur dingin sekali. Bayi itu pertama kali merasakan udara yang dingin sekali. Kemudian apa stress yang lain? Pada waktu bayi dilahirkan di ruang melahirkan, biasanya penerangan nya terang sekali. Jadi, yang di dalam kandungan keadaannya tenang, hangat, aman, gelap, menyenangkan, kemudian saat dilahirkan, terkena udara yang sangat dingin, sinar yang sangat terang. Apalagi kalau ada gunting yang jatuh, karena dia tidak pernah mendengar suara yang keras di dalam kandungan, dia menjadi stress. Kemudian, karena stress, karena perubahan yang sangat mendadak itu, bayi ini lalu menangis, menangis itulah tanda-tanda stress pertama yang dialami oleh seorang bayi.

Kalau sampai si bayi tidak menangis, bayi ini kemudian dicelupkan ke dalam air dingin. Kalau masih tidak menangis, dicelupkan lagi ke air hangat, supaya menangis, sebab kalau bayinya sampai tidak menangis, yang menunggui tidak senang. Jadi si bayi harus dibuat stress, supaya menangis. Kalau sudah menangis, bayi itu sudah stress, lalu yang menungguinya menjadi senang. Jadi bayi itu harus dibuat stress dan orang-orang akan senang melihat bayi yang stress.

Kalau dicelupkan air dingin dan air hangat tidak menangis, konon katanya, dokter akan memegang kaki bayi, diangkat sehingga kepalanya di bawah, kemudian pantatnya ditampar, supaya stress. Sebab kalau tidak stress, orang yang menungguinya sungguh tidak senang. Kalau bayinya tidak stress, orang yang menunggui itu yang stress sendiri. Jadi bayinya dibuat stress. Kalau bayinya sudah stress, yang menunggui hilang stress¬-nya, menjadi senang.

Jadi mengapa harus takut dengan stress? Karena kita ini sejak dilahirkan sudah dilatih untuk menghadapi stress. Sesungguhnya tidak ada alasan untuk takut dengan stress. Kita pun tidak bisa menyembunyikan diri, menghindar agar tidak kena stress. Kalau takut stress, nanti kita kena stress karena takut stress. Kita akan bersembunyi dan mengurung diri.

Eustress dan Distress

Sesungguhnya stress merupakan bagian dari setiap kehidupan. Tidak ada orang yang tidak pernah stress. Jadi janganlah menganggap stress itu sebagai hantu, sebagai sesuatu yang menakutkan, mengerikan, menghancurkan. Stress adalah bagian dari kehidupan kita ini.

Ada dua macam stress. Ada stress yang membawa kemajuan. Yang di dalam istilah popular, stress yang membawa kemajuan ini disebut eustress. Jadi kalau kita tidak mau stress makan kita tidak akan maju. Stress yang lain adalah stress yang membawa dampak atau akibat kehancuran, stress yang merugikan kita. Stress yang membawa kehancuran ini disebut distress.

Pada waktu saya diminta untuk menyampaikan makalah tentang stress, saya juga stress. Mengapa demikian? Karena saya harus mencari bahan, saya harus membuat makalah, harus belajar. Tetapi, stress itu membawa kemajuan bagi saya. Saya belajar, saya membaca buku, saya tanya kanan, tanya kiri, “Apa itu eustress? Apa itu distress?” Akhirnya berhasil. Saya bisa memaparkan makalah saya dengan baik, orang yang mendengar bisa memahami, kemudian stress saya lenyap, hilang. Apakah akibatnya? Kemajuan, pengetahuan bertambah, pengalaman bertambah, dan saya bisa berbuat sesuatu yang berguna untuk masyarakat, untuk ratusan orang, dan sebagainya. Itulah stress yang membawa kemajuan.

Kalau anak-anak akan menghadapi ulangan, akan ujian, dia juga mengalami stress, “Apa kira-kira soal yang akan keluar? Sulit atau tidak? Saya bisa mengerjakan apa tidak?” Anak-anak menjadi stress. Tetapi, kalau sudah maju ulangan, maju ujian dan berhasil, lenyaplah ¬stress¬-nya, dan mendapat kemajuan.

Tetapi sebaliknya, kalau stress itu menjadi beban, menjadi tekanan yang sangat besar, sehingga orang tidak mampu lagi menghadapi, itulah yang dikatakan ¬distress, stress yang membawa kehancuran. Sebaliknya, kalau dia mampu menghadapinya, stress itu akan membawa kemajuan, pengetahuan bertambah, pengalaman bertambah, kebijaksanaan berkembang, mendapat hikmahnya. Itulah eustress.

Apakah sebetulnya stress itu? Stress artinya tekanan, beban. Kalau ada air yang mengalir kemudian diberi penghalang, dibendung dengan kayu atau beton. Kayu atau beton ini mendapat tekanan air. Tekanan itulah stress. Kalau kayu ini mampu menahan maka air itu jadi terbendung, menjadi bermanfaat, itulah eustress, membawa kemajuan. Kalau bendungan ini tidak mampu menahan, bendungan ini jebol, itulah distress, membawa dampak yang negatif. Air yang menekan itu dinamakan stressor. Stressor itulah yang mengakibatkan stress. Jadi mungkin mertua, mungkin anak, mungkin pimpinan, mungkin masalah keuangan, lingkungan, suara, cuaca, atau makan tidak enak. Itulah stressor-stressor.

Tetapi, sesuatu yang sangat menarik, ternyata antara eustress dan distress itu, sulit untuk dicari batasnya. Di mana eustress dan distress? Di mana batas distress? Ternyata, batas eustress dan distress adalah relatif sekali. Mengapa dikatakan relatif? Karena meskipun ada batasnya, tetapi batasnya tidak jelas. Bisa di sini, bisa di sana. Dan ternyata yang membuat batas itu adalah pribadi tiap-tiap orang. Jadi apakah problem ini menjadi eustress atau distress, tergantung pada diri kita, pada kondisi kita, pada cara berpikir kita, pada kesiapan mental kita. Bagi Anda mungkin menjadi eustress, tetapi bagi saya bisa menjadi distress.

Hal lain tentang stress ini yang juga harus diketahui: satu masalah bisa menjadi eustress atau distress, tergantung juga pada lamanya masalah itu berlangsung. Kalau persoalan itu segera diatasi, segera selesai, persoalan itu cenderung menjadi eustress. Tetapi, kalau berlarut-larut, persoalan itu bisa menjadi distress. Tentang lama atau sebentar, singkat atau lama, ini juga sulit mencari batasnya. Seberapakah yang dianggap lama? Seberapakah yang dianggap sebentar? Lama atau sebentar juga relatif, tergantung bagaimana sikap mental kita, cara berfikir kita, ketahanan kita, pandangan hidup kita. Hal itu akan sangat-sangat menentukan.

Apakah kita ingin menjadikan suatu masalah menjadi stress yang menghancurkan atau menjadi stress yang membawa kemajuan, itu tergantung sepenuh-penuhnya kepada kita. Tidak tergantung pada factor yang di luar. Untuk itu, minimal kita harus mempunyai bendungan air. Kecuali kita tidak punya keinginan untuk maju, ya biarkanlah saja apa adanya, sejadi-jadinya. Untuk mempunyai bendungan ini, minimal kita harus mempunyai pengetahuan dan kendali, mempunyai daya tahan untuk bertahan.

Kalau kita mempunyai pengetahuan dan kesanggupan untuk bertahan, nanti kalau mendapatkan arus, mendapatkan tekanan, dan kita mampu bertahan, penahan ini akan menjadi lebih tebal. Itulah akibatnya. Akibat ditimpa tekanan, penahan ini akan menjadi lebih tebal. Kalau menjadi lebih tebal, penahan ini akan siap menerima tendangan yang lebih keras. Nah, sekarang penahannya menjadi lebih tebal. Sekarang ada tendangan yang lebih hebat lagi, dan lagi-lagi mampu menahan, makan penahan ini menjadi lebih tebal lagi. Kalau dulu hanya satu lapis, lalu menjadi dua lapis, sekarang penahan ini menjadi tiga lapis. Kalau sekarang menjadi tiga lapis, penahan itu menjadi lebih siap lagi untuk menerima persoalan yang lebih hebat lagi. Dan kalau dia mampu menghadapi, penahannya menjadi lebih tebal lagi. Itulah orang yang dewasa bathinnya. Mampu menghadapi persoalan dengan tidak panik, dengan tepat, dan membawa kemajuan.
By Lifin88
#6996
Resiko Memiliki

Apakah kehidupan duniawi itu kotor? Jelek, jahat? Tidak. Apakah menjadi petapa itu lebih baik, lebih bersih? Sebenarnya pokok persoalannya adalah bagaimanakah kesiapan manusia menghadapi kemungkinan-kemungkinan kehidupan. Kalau seseorang masih senang mempunyai mobil, ingin berumah tangga, bisa bekerja, mempunyai penghasilan, punya istri yang cantik, punya suami yang cakap; hal-hal itu tidak akan dikatakan jelek atau melanggar norma. Dengan berusaha seperti itu, kita pun bisa mencapai kemajuan, asalkan kita siap menghadapi, siap menerima konsekuensi kehidupan ini.

Kalau seseorang mempunyai mobil, konsekuensinya adalah membayar STNK tiap tahun, suatu saat mungkin mobilnya penyok. Kalau memang sudah penyok, terimalah sebagai suatu kenyataan, sebagai suatu fenomena kehidupan. Tidak akan ada problem. Yang menjadi problem adalah kalau mobil itu penyok, tetapi tidak mau menerima kalau mobil itu penyok. Terjadilah konflik antara kenyataan bahwa mobil itu penyok dengan seleranya yang tidak mau mobilnya penyok. Konflik antara keinginan dengan kenyataan akan menimbulkan penderitaan. Sanggupkah menghadapi kemungkinan mobilnya penyok? Kalau sanggup, punyailah mobil. Yang tidak diharapkan adalah kalau ingin punya mobil, tetapi tidak sanggup menghadapi kalau suatu ketika mobilnya penyok atau rusak berat. Orang itu akan menjadi orang yang paling tersiksa.

Kalau misalnya lantai rumah ini kita tutup dengan karpet yang bulunya itu indah. Apakah resikonya? Apakah konsekuensinya? Kita harus mempunyai alat penyedot debu. Suatu ketika, mungkin ayam-ayan masuk kemari sehingga karpet itu kena kotoran, kena tahi ayam; atau anak-anak kecil masuk sehingga karpet menjadi kotor. Jika kita siap menerima resiko itu, janganlah menjadi jengkel.

Kalau sanggup dan siap menerima resiko, silahkan, tidak akan ada problem, tidak ada duka, tidak ada penderitaan. Tetapi, kalau tidak siap menerima itu, pasti timbullah penderitaan. Jika suatu saat mobilnya masuk jurang, akan merasa sedih, susah. Kenyataan bahwa mobilnya sudah masuk jurang, tetapi seleranya tidak mau menerima hal itu. Bagaimana supaya tidak mengalami kesedihan seperti ini? Tidak usah punya mobil sajalah. Kalau tidak punya mobil, kita tidak akan mengalami kesedihan akibat mobil masuk jurang. Itu jawaban dari mereka yang tidak ingin menghadapi banyak resiko. Tetapi sekali lagi, sama sekali tidak ada larangan membeli mobil, asalkan siap menerima resiko apapun yang terjadi, termasuk mobilnya tabrakan atau masuk jurang. Kalau mau memiliki, tetapi tidak siap menerima resikonya, itulah penderitaan! Sebaliknya, kalau memang benar-benar siap menerima bila terjadi sesuatu terhadap mobil itu, apapun juga; dia tidak akan menderita! Silahkan membeli mobil!

Tidak Ada Pemilik

Sesungguhnya tidak ada “aku” yang bisa memiliki mobil. Dan mobil itu juga tidak bisa dimiliki untuk selama-lamanya. Mobilnya berubah, “aku”-nya juga berubah. Kalau “aku”-nya masih senang, mobilnya lalu tabrakan, maka mobilnya yang sekarang berubah. Kalau mobilnya masih bisa bertahan, belum tampak perubahan mencolok, maka kesukaannya terhadap mobil itu yang luntur. Tidak ada rasa suka yang abadi. Kemungkinan lain, kalau mobilnya masih bisa bertahan, kesukaannya terhadap mobil juga masih bisa bertahan, pemilik mobil itu yang berubah pindah ke alam lain.

Tidak ada sesuatu yang menjadi milik yang sesungguhnya dan tidak ada “aku” yang menjadi pemilik yang sesungguhnya. Mobil adalah proses yang terus-menerus mengalami perubahan. “aku” juga proses yang terus-menerus mengalami perubahan.

Tidak Ada Jalan Lain

Kita boleh berteori macam-macam, tetapi dalam kenyataannya tidak ada jalan lain untuk mengatasi problem antara selera yang bertentangan dengan kenyataan yang ada. Mobil sudah rusak, anak sudah meninggal, istri sudah meninggal, rumah sudah terbakar, atau benda sudah pecah. Maka tidak ada jalan lain, jalan satu-satunya adalah pikiran kita, selera kita harus kompromi dengan kenyataan itu.

Oleh karena kenyataan tidak selalu mau kompromi dengan kita. Yang meninggal tidak mau kasihan terhadap kita lalu hidup kembali; mobil yang rusak berat tidak mau kasihan terhadap kita lalu menjadi utuh kembali; rumah yang terbakar sudah menjadi arang, rata dengan tanah, tidak mau kompromi dengan kita untuk utuh separuh. Tidak bisa! Jadi: kitalah yang harus kompromi, yang harus mengalah terhadap kenyataan. Oleh karena kenyataan tidak mau mengalah atau mengikuti kehendak kita.

Kalau nanti timbul keinginan untuk memperbaiki mobil. Itu adalah langkah yang kedua. Tetapi sebeblum diperbaiki, tidak ada tawar-menawar lagi, kita harus mau menerima kenyataan bahwa mobil kita sudah rusak berat. Bila kita tidak mau menerima kenyataan itu, selalu menganggap yang sudah rusak itu masih baik, malahan kita akan menjadi sulit sendiri. Tidak aka ada perbaikan pada mobil, karena masih dianggap baik, sekalipun nyata-nyata sudah sangat rusak, tidak bisa lagi dijalankan. Misalnya, ada orang mengatakan bahwa mobil kita penyok, lalu kita menjadi marah. Dia akan mengalami kesulitan terus, dia kan konflik batin terus, tidak bisa menerima kenyataan apa adanya. Karena tidak bisa menerima kenyataan, maka tidak akan ada usaha perbaikan. Tidak mau mengakui apa yang terjadi, makan tidak akan ada perbaikan.

Perbaikan menuju kepada yang lebih baik, atau ingin sesuai dengan selera, itu bukan seseuatu yang tidak boleh dilakukan, tetapi menerima kenyataan sebagaimana adanya adalah langkah pertama yang tidak bisa ditawar. Karena ternyata, kenyataan itu tidak mau mengalah terhadap kita, kitalah yang harus mengalah terhadap kenyataan. Kalau kita sudah mau mengalah terhadap kenyataan, tidak akan timbul konflik batin, kita menjadi damai. Sesudah berdamai dengan kenyataan, kemudian dimulailah perbaikan.
By Lifin88
#6997
Hanya Konsep

“Ini rumahku” adalah bahasa konsep. Ini adalah bahasa relatif. Tetapi, kalau kita menggunakan bahasa kenyataan, tidak ada yang menjadi pemilik dan tidak ada yang dimiliki.

“Ini rumahku.” Coba tunjukkan mana rumah itu? Apakah yang ini? Ini lantai. Apakah yang ini? Ini dinding. Apakah yang itu? Itu atap. Yang disebut rumah itu hanya ide, hanya konsep. Oleh karena rumah itu sesungguhnya adalah kumpulan dari unsur-unsur yang membentuk satu bentuk, yang kemudian menimbulkan konsep: rumah. Dan semua unsur pembentuk rumah itu selalu berubah tiap saat, tidak pernah berhenti. Oleh karena itu, tidak ada rumah yang sesungguhnya dan tidak ada “aku” yang sesungguhnya, yang memiliki rumah itu.

Apakah “aku”itu? “Aku” adalah badan jasmani yang selalu berubah, pikiran yang selalu berubah, perasaan yang selalu berubah, pencerapan yang selalu berubah, kesadaran yang selalu mengalir, yang selalu berubah. Lima kelompok itu adalah lima unsur yang selalu berubah, uang membentuk kehidupan.

Milik yang Sesungguhnya

Apakah milik kita yang sesungguhnya? Yang disebut milik yang sesungguhnya, dan kalau pun ada, itu hanya satu. Tetapi, saya harus menulis milik itu dalam tanda petik karena sesungguhnya itu pun juga bukan milik. Anak, suami atau istri, pangkat, kekuasaan, kekayaan, harta, dan sebagainya, tidak abadi. Kalau kita punya tanah hak milik. Betulkah itu hak milik? Itu hanya supaya kita merasa mantap, merasa puas. Sesungguhnya itu bukan hak milik kita. Itu adalah hal pakai. Kita boleh memakai selama kita masih hidup.

Jadi sertifikat hak guna bangunan, sertifikat hak milik, itu sesungguhnya sama saja. Sesungguhnya itu semua hak pakai. Kita bisa memakai selama kita masih hidup. Yang bisa disebut sebagai milik yang sesungguhnya hanyalah satu, yaitu perbuatan. Perbuatan yang baik dan juga perbuatan yang tidak baik. Karena akibat perbuatan itu selalu mengikuti si pelakunya seperti bayangan yang selalu mengikuti bendanya. Kemana pun bendanya pergi, bayangan itu selalu mengikuti.

Melekat Pada Milikku

Dengan mengerti segala sesuatu sebagaimana adanya, kita tidak akan melekat terlalu erat pada segala sesuatu yang kita anggap menjadi milik kita. Dengan bersikap seperti itu, maka kalau suatu saat milik kita rusak, peristiwa itu tidak akan menghancurkan pikiran kita, tidak akan menghancurkan batin kita. Kita melihat rusaknya milik kita sebagai proses. Karena kita melihat segala sesuatu di alam semesta ini tidak kekal.

Misalnya kita melihat sesuatu yang menjadi milik seseorang yang tidak kita kenal, jatuh dan pecah. Tidak ada konflik yang muncul dalam pikiran kita. Apalagi kita sama sekali tidak mengenal orang yang memiliki benda ini. Mungkin bertemu saja tidak pernah. Kita hanya melihat bahwa barangnya jatuh pecah. Oleh karena itu, tidak ada persoalan bagi kita.

Tetapi, kalau benda ini milik teman, atau milik keluarga kita, yang kita kenal dengan baik, kemudian benda yang dia miliki satu-satunya, yang sangat berharga itu, jatuh dan rusak, maka akan timbul problem dalam diri kita, meskipun tidak besar, “Aduh, saying amat benda berharga itu pecah. Saya ikut sedih.”

Jika sebelum pecah, benda milik teman kita itu dinyatakan olehnya, “Benda ini sekarang saya berikan kepada Anda, benda ini sekarang menjadi milik Anda.” Bendanya sama saja, tidak bertambah dan juga tidak berkurang, hanya benda ini dinyatakan menjadi milik kita. Sekarang akan timbul satu masalah besar kalau benda ini jatuh atau pecah; akan menjadi problem bagi pikiran kita, menjadi beban bagi batin kita. Karena sekarang kita sudah mempunyai konsep, “Ini sekarang milikku.” Dan itulah permulaan, bibit timbulnya problem, awal timbulnya problem. Begitu kita sudah merasa, “Ini milikku sekarang,” kita sudah mulai menanam problem.

Kita tidak diharuskan untuk tidak memiliki sesuatu atau tidak punya apa-apa. Tidak diharamkan untuk memiliki sesuatu. Dan memiliki sesuatu itu bukan kotor, bukan dosa, bukan salah. Kita boleh memiliki. Tetapi, kita harus sadar bahwa apa yang dikatakan milik itu hanyalah konsep. Kita tidak bisa memiliki dalam arti yang sesungguhnya. Sehingga kalau benda ini suatu ketika jatuh, rusak, pecah, kita harus siap menerima itu sebagai suatu proses yang wajar.

Suatu ketika di dalam kehidupan berumah tangga, seseorang istrinya meninggal atau suaminya meninggal, anaknya meninggal. Orang menamakan itu musibah, marabahaya, maut. Kemudian akan timbul suatu problem, timbullah penderitaan, timbullah kekecewaan. Tetapi, kalau kita berusahan untuk menerima peristiwa kematian itu sebagai proses yang sangat wajar, yang pasti terjadi dalam kehidupan ini, peristiwa kematian itu tidak akan menggoncangkan pikiran kita.

Jadi bukan berarti jangan punya istri; bukan berarti jangan punya suami. Karena kalau kita tidak punya istri makan kita tidak akan mengalami kematian istri, kalau kita tidak punya suami, kita tidak akan sedih karena kehilangan suami. Boleh punya istri, boleh punya suami, boleh punya anak. Tidak dilarang. Tetapi, pada saat terjadi perubahan pada suami, pada istri atau anak, kita harus mengganggap itu sebagai suatu proses yang wajar. Oleh karena sifat segala sesuatu adalah berubah. Kita boleh mengatakan, suami saya meninggal, istri saya meninggal, anak saya meninggal. Tetapi, kita harus mengerti bahwa meninggal, atau mati itu adalah proses. Proses perubahan yang sudah sangat wajar yang pasti terjadi dalam kehidupan ini. Pengertian ini yang akan menjaga pikiran kita untuk tidak hancur.

Rumah bisa hancur, terbakar habis, tetapi pikiran tidak akan ikut hancur. Sekarang bagaimana melindungi pikiran supaya tidak ikut hancur? Pikiran dilindungi dengan pengertian bahwa rumah terbakar adalah wajar. Itu adalah proses dari semesta ini. Perubahan adalah wajar. Perubahan adalah sifat yang paling jelas dari kehidupan ini. Kalau kita mengerti ini, maka kita akan bisa melihat segala sesuatu sebagaimana sewajarnya.

Tidak Melekat

Tidak melekat pada keduniawian bukan berarti masuk ke hutan dan menyepi, atau menjadi biarawan. Tidak melekat pada keduniawian bukan berarti anti-duniawi. Kalai kita berusaha keras untuk mencapai hasil, menikmatinya sendiri, kadang-kadang kita bahkan tidak bisa menikmatinya karena begitu sayangnya pada hasil yang diperoleh atau begitu serakahnya, apalagi kalau kita memperolehnya dengan bekerja keras dengan tidak tanggung-tanggung merugikan orang lain. Inilah yang disebut melekat pada dunia, mengotori hidupnya sendiri. Menghancurkan dirinya dan juga menghancurkan dunia ini.

Tetapi, mereka yang bekerja keras, memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak menyia-nyiakan waktu, mencapai hasil yang maksimal, kemudian menggunakan hasilnya tersebut untuk manfaat bagi dirinya sendiri, juga untuk keluarga, masyarakat, dan banyak orang, maka mereka dikatakan telah mengatasi penderitaan ganda: penderitaan kemiskinan dan penderitaan mental sekaligus.

Kalau makin banyak orang melupakan atau memungkiri kenyataan adanya penderitaan mental, semata-mata mengejar kebahagiaan materi, apalagi mencari materi, nama, gelar dengan merugikan orang lainm, maka dunia ini akan cepat hancur; nilai kemanusiaan akan makin pudar, ketenangan hidup akan menjadi jauh.
By Lifin88
#6998
Menghadapi Dunia

Semua orang terkena kondisi duniawi karena kita hidup di dunia ini. Kalau dirinci ada delapan macam atau empat pasang kondisi duniawi, yaitu: suka dan duka, untung dan rugi, dipuji dan dihina, terkenal dan tersisih. Delapan macam kondisi duniawi atau empat pasang kondisi duniawi yang saling bertentangan ini, akan datang kepada kita silih berganti, tidak hanya sekali-sekali saja, tetapi terus-menerus.

Tidak ada pengecualian, delapan kondisi ini akan terjadi pada semua orang. Beragama apapun, dari negar mana pun, yang kaya, yang miskin, yang berperangai buruk, orang-orang baik, karyawan atau atasan, pedagang atau pekerja social; termasuk para nabi, pendiri agama, atau umat biasa, tanpa kecuali. Delapan kondisi ini pasti datang.

Hanya saja, ada beda yang amat besar antara orang biasa dibandingkan dengan orang yang telah maju batinnya. Bedanya terletak pada cara menghadapinya, itulah yang membedakan antara orang yang dewasa mentalnya dan orang yang tidak mau belajar. Delapan kondisi ini sama-sama datang, tetapi cara menghadapinya berbeda. Seseorang bisa menghadapi dengan bijak, dengan sikap yang tepat dan benar, tetapi yang lain akan menghadapi dengan sikap salah.

Kalau menghadapi dengan sikap salah, delapan kondisi duniawi itu akan mengombang-ambingkan hidupnya. Menghancurkan hidupnya. Waktu menderita, dia sangat menderita; waktu bahagia, dia juga menjadi rusak. Waktu dihujat, dia sangat membenci pada yang menghujat; waktu disanjung, dia menjadi sombong. Kalau sedang rugi, maka dunia seperti kiamat; kalau sedang untung, dia menjadi congkak, keserakahannya timbul lebih besar. Betapa rapuhnya mental yang seperti ini.

Karena itulah perlu ada latihan mental, supaya kalau delapan kondisi ini datang, kita tidak seperti diombang-ambingkan, tidak punya arah. Meskipun mengalami delapan kondisi duniawi itu, pikiran ini harus tetap teguh.