Forum ini sama saja dengan Blog / Diary, yang bisa di isi setiap hari kegiatan kamu, ayo buat Thread disini, mau nulis puisi, atau sekedar berbagi ceritamu sehari-hari bebas saja.. dan asyiknya bisa di komentarin oleh member KI lainnya :)
User avatar
By Wirashakti
#15357
Bertahun-tahun silam, ketika kawasan Sarfat masih penuh dengan hutan bambu dan pohon-pohon besar. Banyak sekali makhluk halus yang menampakkan diri. Mulai dari genderuwo yang di dahinya terpasang angka togel, glundung pringis atau kepala yang menggelinding, tengkorak-tengkorak bekas korban perang antara serdadu jepang dan kompeni, sampai satu kuntilanak cantik yang suka sekali berayun-ayun di dahan pohon besar.
Kuntilanak itu yang sering meresahkan penduduk. Dia tidak mencelakai tapi kenampakkan dialah yang sering menyebabkan orang-orang lari tunggang langgang bahkan pingsan di tempat.
Pakdhe Nasir. Beliau seorang Pemangku Pura Indrajaya pada masa itu merasa perlu untuk melakukan lobby dengan kuntilanak itu.
Beliau melakukan perjanjian dengan tujuan memindah kuntilanak itu ke tempat lain. Tidak dibunuh atau dimusnahkan.
Ia tidak minta apa-apa karena dipindahkan. Hanya saja ketika memindah sosoknya, ia minta di 'masukkan' ke dalam sehelai selendang batik Pekalongan.
Pakdhe dengan senang hati memindah kuntilanak tersebut yang setelah ditanya, ia bernama Lilik.
Dibawanya Lilik ke kawasan Coban Talun. Hutan pinus.
Lilik dilepaskan di sana agar mencari tempat tinggal baru.
Pakdhe berwelas asih. Walau bagaimanapun juga, Lilik tetap sesosok Karya Tuhan, hamba Tuhan. Sama seperti umat manusia.
Mulailah Pakdhe mempunyai inisiatif untuk 'memberi makanan' kepada Lilik, membakarkan kemenyan di hutan pinus Coban Talun, khusus untuk si kuntilanak cantik yang tanpa syarat berat mau berpindah tempat.
Bertahun-tahun berjalan. Lilik sukacita dengan bersorak ria dan bertepuk tangan ketika Pakdhe datang membawa anglo berisi bara api dan kemenyan. Dan tidak pernah lupa mengucapkan terima kasih.
Kemudian, Pakdhe sakit. Stroke. Karena menerima hibah pusaka berupa keris yang berguna untuk memindahkan hujan, namun sayangnya keris itu tidak serasi dengan Pakdhe. Tiba Dhandhang Tunggu Nyawa, begitu menurut hitungan jawa.
"Kasihan Lilik, siapa sekarang yang akan memberi dia makan selama aku sakit..", ujar Pakdhe.
Selama Pakdhe sakit, Lilik kerap menjenguk tapi hanya sampai halaman rumah. Lilik tidak berani masuk. Hanya duduk hingga subuh menjelang, kemudian hilang.
Suatu ketika, Pakdhe wafat. Suara bajra berdenting dialun asap dupa, bunga dan daksina. Peti mati terbuka. Dikerubung kain hitam.
Lilik berdiri jauh di belakang kerumunan orang-orang pelayat. Menangis di bawah pinus. Begitu cerita Budhe.
Lilik membawa segenggam bunga kamboja segar. Ditabur diatas pusara Pakdhe, menangis dan entah apa yang ia ucapkan. Mungkin doa.
Kini, Lilik kembali ke Sarfat. Menampakkan diri. Jika saja ada orang lain yang berbaik hati kepadanya. Seperti mendiang Pakdhe.