Di forum ini kamu dapat ikut serta memecahkan masalah yang menjadi pilihan dari Admin dan Moderator KI. Dapat dihitung sebagai kontribusi kita sebagai Indigo untuk Nusantara.
#5793
Seperti yang umum kita ketahui, setiap manusia pasti memiliki kesensitifan tersendiri. Untuk manusia yang diberi "gift" khusus, tentu kesensitifan nya semakin meningkat, misalnya: menyerap sakit orang lain, dll..

Bagaimana kamu2 / para indigoers mengatasi kesensitifan mu? Mari sharing :-))
#5812
Hum...berpikir positif,berdoa dan jika good mood aku akan menghampiri orangnya untuk membantu. Lumayan mengurangi efek sensitif ke tubuh kita, at least dia bisa kita perbaiki.

Contohnya: Saat di rs, aku merasakan degup jantung org yg duduk disebelahku berdetak. Mala aq berusaha menyeleraskan degup itu dengan logikaku. Pelan2 degup org itu biasa kembali. Saat pikirannya terbaca, pelan2 disapa, nanti dia curhat.

Aq menjauh dari lingkungan kadang, tapi tidak berarti mengurung diri. Diluar sana banyak orang membutuhkan kita, so anggap saja sensitif kita adalah senjata bukan alasan fokus pada efeknya.

Detailnya lain waktu ya.
#5889
Lifin88 wrote:Seperti yang umum kita ketahui, setiap manusia pasti memiliki kesensitifan tersendiri. Untuk manusia yang diberi "gift" khusus, tentu kesensitifan nya semakin meningkat, misalnya: menyerap sakit orang lain, dll..

Bagaimana kamu2 / para indigoers mengatasi kesensitifan mu? Mari sharing :-))
Sebetulnya sih , menyerap sakit org lain itu BUKANLAH termasuk sensitivitas / kepekaan panca indera.

Jadi Sebetulnya ,.Semakin meningkat kepekaan / sensitifitas simpul2 saraf dan panca indera,.maka akan menjadi semakin lebih baik.
Tergantung bagaimana otak,.istilahnya fikiran akan mengontrolnya dalam mengaplikasikannya.

Nah sekrg tinggal,.Mengenai Ketularan dgn penyakit org lain.
- Seseorg yg sensitif maupun gak sensitif tetap berpotensi utk ketularan penyakit jika berdekatan dgn org yg sedang sakit.
-Seorg dokter akan tetap berpotensi ketularan penyakit pasien,. hanya bedanya dokter tsb bisa langsung menanganinya scr cepat dan tepat.

Demikian juga seorg penyembuh,.justru jika semakin sensitif maka seorg penyembuh akan bisa langsung cepat membuang penyakit pasien yg menciprat ke dirinya.
Maka sebelon menjadi seorg penyembuh,.org yg sensitif dituntut mempunyai 'bekal' yg cukup dan mampu meningkatkan immun.
-
#5891
hexasana wrote: Nah sekrg tinggal,.Mengenai Ketularan dgn penyakit org lain.
- Seseorg yg sensitif maupun gak sensitif tetap berpotensi utk ketularan penyakit jika berdekatan dgn org yg sedang sakit.
-Seorg dokter akan tetap berpotensi ketularan penyakit pasien,. hanya bedanya dokter tsb bisa langsung menanganinya scr cepat dan tepat.
Nah.. Untuk memperjelas kata sensitif ini, aku ksh contoh:
1. Untuk kategori sakit, misalnya, kebetulan di dekat kita ada yang sedang sakit kepala akut, sakit perut, nyeri tulang, dlsb. Sewaktu orang tersebut belum ada di dekat, kita merasa badan kita sangat fit, gak lama kemudian, ada seseorang yang masuk, dan mendadak kita menderita sakit, dan seseorang itu pun tiba2 menceritakan bahwasan nya dia sedang sakit, dan sakit itu persis sama seperti yang kita alami. Biasanya untuk kasus seperti ini, ada yang langsung turun tangan membantu untuk menghilangkan sakit (bila sakit ringan tentu bisa langsung dibantu), ada juga yang memilih untuk menjauh. (Ada yang menjauhi mall, rumah sakit, dan tempat umum lain nya untuk menghindar dari menyerap penyakit orang)

2. Untuk kategori alam, misalnya ketika akan terjadi bencana alam seperti gunung meletus, gempa dlsb, tubuh orang tersebut akan merasa seperti diobok, merasakan kesusahan, dan ternyata beberapa hari kemudian muncul di berita bahwa terjadI bencana. (Contoh ini diambil berdasarkan cerita dari orang yang pernah mengalami nya )
Demikian juga seorg penyembuh,.justru jika semakin sensitif maka seorg penyembuh akan bisa langsung cepat membuang penyakit pasien yg menciprat ke dirinya.
Maka sebelon menjadi seorg penyembuh,.org yg sensitif dituntut mempunyai 'bekal' yg cukup dan mampu meningkatkan immun.
Mungkin momod Hexana bisa sedikit berbagi tentang bagaimana cara membuang penyakit pasien yang terciprat ke dirinya? :-))

Cara apa yang dipakai momod Hexana untuk meningkatkan immun? Dan bekal seperti apa yang dimaksud?

Mudah2an sharingan yang diberi bisa bermanfaat bagi yang lain, dan bermanfaat bagi seseorang yang selama ini bingung akan diri nya, dari tidak tahu menjadi tahu :-))
#5921
Lifin88 wrote: Nah.. Untuk memperjelas kata sensitif ini, aku ksh contoh:
1. Untuk kategori sakit, misalnya, kebetulan di dekat kita ada yang sedang sakit kepala akut, sakit perut, nyeri tulang, dlsb. Sewaktu orang tersebut belum ada di dekat, kita merasa badan kita sangat fit, gak lama kemudian, ada seseorang yang masuk, dan mendadak kita menderita sakit, dan seseorang itu pun tiba2 menceritakan bahwasan nya dia sedang sakit, dan sakit itu persis sama seperti yang kita alami. Biasanya untuk kasus seperti ini, ada yang langsung turun tangan membantu untuk menghilangkan sakit (bila sakit ringan tentu bisa langsung dibantu), ada juga yang memilih untuk menjauh. (Ada yang menjauhi mall, rumah sakit, dan tempat umum lain nya untuk menghindar dari menyerap penyakit orang)

2. Untuk kategori alam, misalnya ketika akan terjadi bencana alam seperti gunung meletus, gempa dlsb, tubuh orang tersebut akan merasa seperti diobok, merasakan kesusahan, dan ternyata beberapa hari kemudian muncul di berita bahwa terjadI bencana. (Contoh ini diambil berdasarkan cerita dari orang yang pernah mengalami nya )
Sejujurnya aja yah,..Terus terang nich, utk kasus2 spt 2 point diatas tsb Memang itu terjadi secara Metafisik..Namun hal itu adlh "Something Wrong".
Jadi org yg betul2 sensitif /peka panca indera metafisiknya itu gak seperti itu dan gak akan seperti itu.,..kecuali something wrong seperti itu lah.
Contonya yg mirip nih: Kasus stigmata.
- Stigmata itu memang berasal dari metafisik,..dan ini ku anggap sebagai sesuatu yg something wrong.
Terus terang aja , hal itu kusebut sebagai santet scr keagamaan.,..Dlm artian ada intervensi mhlk astral membuat fenomena seperti itu. Dan bukan berarti yg mengalami stigmata itu peka/sensitif. Dan jauh disebut sakti.(org sakti gak bakalan mudah sakit dan gampang sakit).
Dan itulah sesungguhnya yg terjadi di metafisik.

Penjelasan Rasional nya seperti ini aja deh,.Secara Logika,.apa iya Yesus itu ingin umat nya yg sehat, segar bugar tiba2 sakit sakitan spt itu.?
Malahan justru itu dianggap sbg sensasi keberkahan.?
Jika org sedang sehat secara lahir bathin,.dan juga fit,..maka org itu bisa berfikir secara jernih utk mencerna kejadian spt itu. Pemikiran dan Renungan yg sangat mendalam,.secara akal logika aja deh. Dan gak perlu memasuki metafisik.

Khusus utk point ke 2 nih yah,..Itu disebut Tingkatan Menyatu dgn Alam.
Bukan berarti org yg mencapai tingkat tsb akan sakit sakitan jika akan terjadi bencana alam.
Juga gak cuman bencana alam,.bahkan fenomena perubahan iklim, suhu,.beberapa getaran dari efek lintasan meteor/komet...bahkan getaran2 di dalam galaksi itu sendiri akan bisa dirasakan dan diliat...itu bagi yg sudah mencapai tingkat menyatu dgn alam.
Bukan lantas sakit...Namun justru kondisi tubuhnya sangat fit ,.dgn kepekaan dan sensitifitas indera yg sgt luar biasa.

Jadi terus terang ajah nih,..jika org sehat lantas tiba2 sakit,.mnrtku itu something wrong.
Cara apa yang dipakai momod Hexana untuk meningkatkan immun? Dan bekal seperti apa yang dimaksud?
Bekal itu adalah:
- 1. Energi /power yg cukup besar.
- 2. Perbendaharaan/wawasan yg luas ttg penyakit dari metafisik,..dan jg kalo bisa penyakit fisik/medis.
- 3. Tehnik yg memadai utk mengolah power,.sehingga bisa bermanfaat buat diri sendiri dulu...shg mampu memerintah immun dalam diri sendiri.
(ini bisa disebut menyelam kedalam diri sendiri).
#5930
viewtopic.php?f=18&t=12 Pada thread ini ada dijabarkan tentang 9 Penderitaan Anak Indigo yang di post oleh salah satu member, dayaksoul » 29 Jul 2013, saya kutip point keempat dari 9 poin itu:

4. Empati yang menyakitkan
Tidak mudah untuk berempati terhadap penderitaan orang lain, atau alam yang sedang dizholimi oleh manusia-manusia jahat dan serakah, sedangkan sedikit yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan buruk itu. Rasa empati ini sering kali berakibat buruk kepada anak Indigo. Disebabkan kepekaan yang berlebihan pada anak Indigo, rasa empati yang mendalam bisa menjadikan dirinya ikut menderita. Rasa empati terhadap orang yang sakit bisa membuat anak Indigo menderita penyakit yang sama, seperti terjadi penularan walaupun bukan penyakit yang menular.
Untuk mengurangi efek negatif rasa empati yang mendalam ini sebagian anak Indigo mengambil sikap tidak acuh yang berlebihan. Sehingga mereka tampak sebagai anak yang tidak peduli lingkungan sosial dan tidak mau bergaul.
Sebaiknya rasa empati disalurkan ke dalam bentuk tindakan langsung seperti mengobati orang yang sakit atau berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan dan kebaikan orang lain. Penyaluran energi dalam bentuk kepasrahan kepada Tuhan adalah jalan yang paling efektif.


Mungkin maksud yang ingin saya utarakan pada comment sebelumnya tidak tersampaikan dengan baik :-)) Kebetulan saya ingat pernah ada yang posting tentang penderitaan anak indigo. Apakah itu termasuk dalam bagian "something wrong"?

Seperti yang sering kita baca dalam survey-survey yang pernah dilakukan, tidak semua anak yang diberi "gift" mempunyai kemampuan yang sama, ada yang mesti dilatih terlebih dahulu, baru apa yang ada di dalam dirinya bisa berkembang. Atau yang karena bergabung dengan seseorang atau sekelompok orang, tiba-tiba dia merasakan suatu kelebihan yang tidak pernah ia tahu selama ini mendadak muncul, dlsb. Untuk kasus seperti ini, pasti orang tersebut menjadi lebih sensitif dan sebagian ada yang merasa kebingungan atas apa yang terjadi di dalam diri nya secara mendadak.
Bekal itu adalah:
- 1. Energi /power yg cukup besar.
- 2. Perbendaharaan/wawasan yg luas ttg penyakit dari metafisik,..dan jg kalo bisa penyakit fisik/medis.
- 3. Tehnik yg memadai utk mengolah power,.sehingga bisa bermanfaat buat diri sendiri dulu...shg mampu memerintah immun dalam diri sendiri.
(ini bisa disebut menyelam kedalam diri sendiri).
Thank you sudah bersedia berbagi pengetahuan nya :-))

Kalau untuk bekal ini, biasanya saya sering mengingatkan agar "jangan sekali-sekali membantu bila diri sendiri tidak yakin pasti bisa membantu, harus bijak mengukur kemampuan sendiri, meskipun dilandasi niat baik, tetapi itu sangat berbahaya sekali bila diri sendiri tidak tahu bahaya apa yang akan dihadapi, salah-salah diri sendiri yang ikutan sekarat, yang dibantu pun gak tertolong."
#5944
Lifin88 wrote: Mungkin maksud yang ingin saya utarakan pada comment sebelumnya tidak tersampaikan dengan baik :-)) Kebetulan saya ingat pernah ada yang posting tentang penderitaan anak indigo. Apakah itu termasuk dalam bagian "something wrong"?

Seperti yang sering kita baca dalam survey-survey yang pernah dilakukan, tidak semua anak yang diberi "gift" mempunyai kemampuan yang sama, ada yang mesti dilatih terlebih dahulu, baru apa yang ada di dalam dirinya bisa berkembang. Atau yang karena bergabung dengan seseorang atau sekelompok orang, tiba-tiba dia merasakan suatu kelebihan yang tidak pernah ia tahu selama ini mendadak muncul, dlsb. Untuk kasus seperti ini, pasti orang tersebut menjadi lebih sensitif dan sebagian ada yang merasa kebingungan atas apa yang terjadi di dalam diri nya secara mendadak.
Yup,.jgn kuatir,.aku tau maksudnya kok..ok.

Dan sebetulnya sih aku sendiri berada di lingkungan org2 yg dianggap punya kelebihan spt itu gt.
Sbg contonya anak perempuan ku,..saat skrg , dia br masuk smp. Dan aku tau sejak kecil dia udah bisa liat hal2 metafisik scr clear.
Dan aku tau dari dulu dan aku diemin kok. Dan selama dia gak menderita atau sakit sakitan,.maka gak ada sesuatu yg salah pada dirinya.
Tapi kalo sekedar kaget,.kadang celingak celinguk sendiri,..ya nda masalah. Karena itu gak menyerang secara fisik,.dlm artian gak menimbulkan penderitaan kesakitan,.ataupun di organ tubuh lain yg sifatnya penyiksaan.

Dan bbrp kasus lainnya pernah aku test dan hasilnya memang harus diselesaikan scr metafisik.

Dan disini aku coba jelasin ttg apa yg disebut empati.
- Di metafisik,.hanya ada 1 yg dianggap asli dan yg lainnya "palsu".
Jd jika sesorg (A) sakit , dan org lain (B) bisa sakit yg sama... maka si B adlah sakit yg palsu.,..scr metafisik Ini disebut proyeksi.
Proyeksi itu bisa akan sama persis kondisi dgn aslinya ,.namun tetaplah palsu. Tapi jika proyeksi tsb bisa masuk ke dlm tubuh si B,.maka itu ada sesuatu / 'something wrong'.
Ada "sesuatu" yg aktif yg membuat proyeksi tsb menjdi 'hidup' di dlm tubuh si B.

Ok deh,.ya seperti itulah..
#5945
Menyoal stigmata, aku ambil dari web katolik. Sekedar info karena ada yang menyebutkannya di diskusi ini.

Stigmata (bentuk jamak dari stigma, dalam bahasa Yunani) adalah luka- luka di tubuh ataupun perasaan sakit pada bagian- bagian tubuh seperti yang dialami oleh Tuhan Yesus karena penyaliban-Nya. Maka stigmata yang dialami oleh para stigmatist berkaitan dengan kelima luka seperti luka- luka Kristus yaitu: di kedua tangan, kaki dan lambung. Beberapa di antara para stigmatist tersebut juga mengalami luka- luka di kepala. Para stigmatist ini ada yang mengalami sakit pada bagian- bagian tubuh tersebut, tetapi di tubuhnya tidak ada luka. Sedangkan pada kasus lainnya, stigmata disertai juga luka- luka dengan rasa sakit yang tak terkira. Pada kasus- kasus tertentu pada darah yang keluar, disertai dengan bau harum. Stigmata ini dihubungkan dengan persatuan spiritual/ mistik antara orang yang menerimanya dengan Kristus, sebab mereka secara khusus dapat mengambil bagian dalam penderitaan Kristus (lih. Kol 1:24)/mempersatukan penderitaan mereka dengan penderitaan Kristus, demi mendoakan pertobatan dunia. Karena stigmata ini berhubungan dengan pengalaman rohani, maka umumnya diterima dalam keadaan/ setelah berdoa ataupun mengalami karunia penglihatan dalam doa.

Stigmatist yang terkenal adalah St. Fransiskus dari Asisi (1181-1226) dan St. Padre Pio dari Pietrelcina, Italia (1887-1968). St. Fransiskus Asisi adalah Santo pertama yang tercatat menerima stigmata. Ia menerima stigmata tersebut di tahun 1224, dua tahun sebelum wafatnya, yaitu pada saat ia berdoa di hari raya Salib Suci. Salah satu stigmatist lainnya yang terkenal adalah St. Padre Pio, yang menerima stigmata ini dan menanggungnya selama 50 tahun. Luka- lukanya ini telah dipelajari oleh para dokter di abad ke 20, yaitu oleh Dr. Luigi Romanelli, Dr. Giogio Festa, antara 1920-1925. Profesor Giuseppe Bastianelli, yang menjadi dokter Paus Benediktus XV juga telah memeriksanya, namun tidak memberi komentar. Ahli pathologi Dr. Amico Bignami dari universitas Roma yang memeriksanya tidak dapat memberikan diagnosa.

St. Padre Pio sendiri, selain memiliki stigmata, juga mempunyai banyak karunia lainnya seperti karunia melakukan mukjizat, penyembuhan, nubuat, bilocation (dapat hadir di dua tempat pada waktu yang bersamaan), levitation (dapat terangkat saat berdoa), dapat membaca isi hati seseorang, mendatangkan pertobatan dan hidup tanpa tidur dan makan yang normal (dapat hidup selama minimal 20 hari hanya dengan Ekaristi, tanpa makanan lainnya), karunia bahasa lidah, dan dari luka- luka stigmata-nya terpancar bau harum. Selama lima puluh tahun luka- luka stigmatanya mengeluarkan darah dan baru berhenti sesaat sebelum kematiannya. Pada saat kematiannya luka- luka stigmatanya hilang seluruhnya, tanpa meninggalkan bekas.

Orang- orang yang dicatat mempunyai stigmata, kebanyakan memang dari kalangan biarawan/ biarawati Katolik