Di forum ini kamu dapat ikut serta memecahkan masalah yang menjadi pilihan dari Admin dan Moderator KI. Dapat dihitung sebagai kontribusi kita sebagai Indigo untuk Nusantara.
By Junabel
#6116
cerita ini adalah kisah nyata, pengalaman saya, hanya nama2 yang terlibat disamarkan. saya mengambil bagian cerita ini dari catatan indigo diary yang saya tulis sendiri.
Buat yang mau tau kisah lengkapnya silakan menuju ke link ini :
7 wanita cantik (bagian 1) viewtopic.php?f=21&t=339&start=10#p5950
7 wanita cantik (bagian 2) viewtopic.php?f=21&t=339&start=10#p5961
7 wanita cantik ( tamat ) viewtopic.php?f=21&t=339&start=10#p6096

Suatu hari berkesempatan hadir di ruang pelayanan doa, lalu memegang seorang anak muda berumur 20-an. Anak muda ini matanya jereng sejak lahir.

Saat memegang anak muda ini, saya dihadang beberapa rintangan. Oleh karena kasih Allah, rintangan2 tsb berhasil dilewati dan dipatahkan. Kemudian sampailah saya ke sebuah tempat:
Saya berdiri di sebuah tempat dimana langitnya temaram kemerah-merahan. Tanahnya gersang, hanya hamparan pasir tanpa pepohonan. Rumput pun tidak tumbuh. Di hadapan saya tampak sebuah gubuk kecil yang tidak terawat.
Dinding gubuk tampak kemerah2an, begitu kusam warnanya. Ada sebuah rongga pintu di gubuk itu,tapi tidak ada daun pintunya.
Saya mendekat, dan baru menyadari bahwa ada seorang anak kecil bersandar dekat pintu.
Anak itu anak laki-laki. Kurus sekali. Tingginya kira2 sepinggang saya, kulitnya pucat kehijauan, pandangan matanya kosong.

Saya bertanya siapa namanya, anak itu tidak menjawab.
Saya menawarkan makanan, tetapi anak itu hanya menunduk saja.
Saya mencoba bertingkah lucu, berusaha mengajaknya bermain, tetapi anak itu tidak menghiraukan saya, kali ini dia malah menatap kembali keluar pintu, kearah tadi saya datang.
Saya berdiri diam disana. Mencoba mengerti apa yg dia inginkan.

Saya merasa bahwa anak ini sedang menanti seseorang yang tak kunjung datang. Ntah sudah berapa tahun dia menanti dan terus menanti.
Sungguh sedih melihat kondisi anak kecil itu :-<

Karena merasa tidak dapat berbuat apa2 untuk anak itu, saya meninggalkan beberapa potong roti dan sebuah bola di dekatnya, dan pamit pulang.
Saya pulang kembali ke ruang pelayanan doa.

Sambil menikmati minuman, saya berbincang2 dengan anak muda itu dan orang2 yg ikut pelayanan. Saya menceritakan kembali apa yang saya lihat dan lakukan di sana.
Sampailah kami pada pertanyaan ini : "Siapa ya kira2 anak kecil pucat yang diperlihatkan tadi?"
Seorang peserta doa berinisiatif menanyakan anak muda itu apakah pernah punya adik atau abang yang meninggal waktu kecil?
Dia bilang tidak ada.
Lalu peserta doa itu mendesak anak muda tadi untuk bertanya kepada ibunya, saat itu juga. Setelah dapat konfirmasi bahwa ibunya belum tidur, maka terjadilah percakapan via telepon yang kurang lebih seperti ini:
Anak muda : "Mami, aq baru saja didoakan di pelayanan. Tanya donk: emangnya aq punya abang atau adik yang meninggal waktu kecil?"
Mami : "Enggak, gak ada."
Peserta : Tanyain mami kmu, apa pernah melakukan aborsi atau keguguran kandungan.
Anak muda : [bertanya seperti panduan peserta]
Mami : ………..[diam cukup lama baru berkata]……….."Iya ada, dulu pernah satu kali "
Anak muda : "Kok mami gak pernah cerita? Emangnya kenapa mi? "
Mami : [diam sesaat lalu bercerita singkat]………"Dulu hamil lupa bulan keberapa periksa ke dokter kandungan, gak ada detak jantung. Kata dokter gak berkembang janinnya. Jadi dibuang. "
Peserta : tanyain mami kmu janinnya laki atau perempuan.
Anak muda : apa mami udah tau dia laki-laki atau perempuan?
Mami : iya udah tau itu laki. Kalau itu lahir, seharusnya jadi abangmu Emangnya kenapa?
Kami yang hadir: :029: OMG......... Shocked poll ………… :029:
Terkejut, karena tepat sekali jenis kelaminnya!
Terkejut, karena tepat sekali jumlahnya!
Terkejut, karena janin tsb hanya dianggap benda (disebut dgn kata itu) bukan diperlakukan sebagai anak!
Terkejut, karena dianggap benda maka dibuang, tidak diberi nama, tidak diakui sama sekali !
Terkejut, mengapa sampai hati seorang ibu berbuat demikian???

Para peserta pelayanan sepakat menyarankan agar anak muda itu menceritakan kepada papi dan maminya apa yg dia dengar nanti di rumah.
Lalu, mengambil waktu khusus, kumpulkan papi, mami, dan semua sodara kandung anak muda ini, bersama para pelayan doa, mendoakan anak kecil pucat itu, yang adalah abangnya yang ditelantarkan.

Keluarga harus sepakat memberi abangnya sebuah nama, harus menerima kembali abangnya yang hilang, mengakui, dan mencintai abangnya, yang walaupun tidak sempat lahir dan hidup secara normal, tetap adalah anggota keluarga mereka.
By Lifin88
#6150
Pengalaman yang bagus sekali ko :-)) dibaca ulang juga gak bakal bosen (y)

Pelajaran berharga buat kita semua, jangan menganggap janin yang belum terlahirkan itu tidak bernyawa, jangan dikira pula "belum umur 3 bulan kok hamil nya, belum ada nyawa nya", sejak awal mula proses untuk terbentuknya sebuah janin / kehamilan, dari situ nyawa kecil berjuang membentuk diri, dr sperma terbaik bertemu ovum, mengalami pembuahan, dr situ lah nyawa kecil dimulai.

Seorang janin yang keguguran saja bisa mengalami kesedihan yang sangat mendalam, apalagi yang sengaja digugurkan, diberi obat penghancur, dicabik2, bayangkan bila kalian sendiri yang mengalami hal itu. Berani berbuat maka harus berani bertanggung-jawab.
By Junabel
#6570
Menanggapi saran dan masukan teman2, disini juna menambahkan tentang apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua apabila pernah mengalami keguguran atau aborsi.

Untuk para orang tua, langkah pertama adalah bertobat mohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Pengasih atas kesalahan masa lalu yg pernah diperbuat, apakah disengaja maupun tidak disengaja. Sebaiknya dalam penyertaan penatua atau konselor agama yg dipandang baik, berbelas kasih dan dapat dipercaya.

Langkah kedua, orangtua mempersiapkan/memilih sebuah nama yang layak, yg punya arti/harapan utk anak tsb, tidak boleh asal comot, karena hal ini harus ditanggapi serius dan sungguh2. Apabila orangtua tidak tahu jenis kelamin anak gunakan nama yg unisex, yg tidak spesifik ke jenis kelamin. tapi mesti diingat ini bukan sekadar formalitas diatas kertas, bukan demi menyenangkan saya, atau demi menyenangkan penatua atau konselor. Ini urusan kasih sayang antara orangtua dan anak. Tolong dilaksanakan pemilihan nama secara serius.

Langkah ketiga, orangtua mengumpulkan semua anak kandung/angkat (jika ada), dan bersama2 sebagai satu keluarga inti, mendoakan anak yg keguguran/aborsi tsb dengan intensi yg jelas: memberi nama, mengakui sebagai anak, memanggil namanya, memberitahunya posisinya di antara saudara/i yg lain (apakah kakak/abang/adik ke berapa setelah/sebelum anak yg mana) sesuai dgn urutan lahir yg sehrusnya dari anak tsb, lalu memberi kesempatan kepada anak2 lain yg hidup untuk memanggilnya sesuai kedudukannya diantara mereka. Semua harus dilakukan sungguh sungguh dalam semangat cinta kasih untuk merangkul kembali anak hilang yang telah kembali.

Langkah keempat, menetapkan sebuah hari dan tanggal ulang tahun anak tersebut. Hari dan tanggal bisa diambil dari hari ketika anak meninggal, atau jika tidak ingat atau terlalu pedih untuk diingat, gunakan tanggal saat orangtua memberi nama kepada anak tsb (saat dilakukan langkah ketiga) sebagai tanggal lahirnya sang anak.

Langkah kelima, berdoalah kepada Tuhan untuk anak Anda yg telah kembali, seperti saat Orangtua berdoa bagi anak2 lain yg hidup. Doakanlah anak itu setiap kali orangtua berdoa kepada Tuhan. Mintalah perlindungan Tuhan untuk anak tsb.
Kemudian secara khusus, keluarga harus memperingati hari ulang tahun anaknya itu setiap tahun, dgn tanggal yang telah ditetapkan di langkah ke empat. Sampaikan doa permohonan kepada Tuhan dengan harapan2 orangtua bagi anaknya selayaknya ortu berdoa untuk anak lain yg sedang berulangtahun. (Misal semoga Tuhan memberi anak ini kesehatan, kebahagiaan, dsbnya). Berdoalah dalam semangat cinta yang dalam untuk anak itu.

Setelah langkah 1 sd 4 dilakukan, langkah selanjutnya yang sangat penting dan perlu dilakukan terus menerus adalah langkah yang kelima. Berdoalah dalam cinta kasih untuk anak itu, juga untuk anak2 lain dalam keluarga.

Semoga Tuhan berkenan melihat kesungguhan hati para orang tua dan membalasnya dengan kasih yang berlimpah. Anak itu akan bertumbuh dalam cinta, dan percayalah, anak yang dicintai dengan tulus ikhlas tau bagaimana berbakti kepada orangtuanya.
By yoseph80
#6590
Aborsi..... Apapun alasannya, Aborsi merupakan tindakan membunuh "kehidupan".

Hal ini hampir terjadi dengan teman saya, dia seorang ibu rumah tangga yg " selingkuh" lalu hamil.
Hal tsb telah diketahui oleh suaminya dan suaminya segera menggugat cerai.
Guna menjaga keutuhan keluarga, teman saya berencana mengaborsi janinnya.
Sebelum teman saya melakukan, dia berkonsultasi dengan saya dan saya melarangnya. Sebab aborsi merupakan tindakan pembunuhan dan TUHAN mengijinkan teman saya hamil pasti ada alasannya.
Hukum sebab akibat / tabur tuai berlaku...memang pilihan sulit, mempertahankan keluarga atau membunuh janin.
Ada sebab ada akibat, ada konsekuensi.... Saran saya adalah utk tetap memelihara bayi tersebut, apabila jalan kehidupan teman saya harus bercerai, maka dia harus terima dan membesarkan anak tsb.
Karena saya menilai bahwa selingkuhannya bukan tipe pria yang bertanggungjawab.

Dan terjadilah semuanya...... Teman saya bercerai, selingkuhan kabur...tetapi saya bersyukur bahwa teman saya tidak membunuh janin.
Dan pesan saya adalah...pelihara dan besarkan anak itu dan ajarkan yg baik dan jangan sampai mengulang kesalahan seperti ibunya.

Sekarang usia kandungan hampir 6 bulan.....

Salam.....
By Admin
#6598
Pasal berlapis dikenakan untuk Pelaku aborsi, dan sleamat kita kembali ke jaman kegelapan,

dimana Nyawa Manusia / Bayi dianggap pembawa sial jika itu anak yang A, B, C, D, bisa bikin sial, malu atau dll sehingga harus dibunuh :019:
By teahangat
#6628
@all: Gimana kalau ortu tidak bisa melakukan langkah2 pertobatan tersebut karena hal2 tertentu? Misalnya sudah meninggal atau sebab lain. Bisakah saudara ortu atau adik dari janin itu yang mengambil tanggungjawab tersebut?
By dawnsky
#6646
Aku Pro-Life, tapi ada issue nih, kalau anak yang dikandung hasil perkosaan?
Akan jadi tekanan juga buat ibunya,karena mengandung anak yang tidak diinginkan (janin si pemerkosa). Ga mungkin dia harus mengalami kehamilan yang awal mulanya pun traumatik.



teman2 ada solusi gak? sejauh ini solusi dari pemerintah korban pemerkosaan diperbolehkan aborsi sebelum 40hr,jadi korban harus segera melapor dan menindak lanjut.
By yoseph80
#6652
Pertanyaan yg baik bro dawnsky....

Adalah benar dan fakta bahwa wanita korban perkosaan tidak mengharapkan kehamilan hasil pemerkosaan.
Saya berpikir bahwa ada 3 hal yg perlu dipertimbangkan supaya korban tidak mengaborsi janinnya, yaitu :

1. Hukum, Penuntasan dan pengadilan oleh pihak terkait memberikan rasa keadilan kepada korban.
Dan sudah seharusnya merevisi hukum perihal memperkosa untuk mendapatkan hukuman seberat2nya, maksimal hukuman seumur hidup dan denda materiil sebesar2nya, Mengapa? Hukuman seumur hidup kepada pelaku dikarenakan Jika si korban hamil dan korban tdk dpt menerimanya, maka aborsi adlh pilihannya. Sudah jelas bahwa aborsi merupakan tindakan menghilangkan kehidupan.
Hukuman tersebut didasarkan kepada pelaku dengan sengaja melakukan tindakan kekerasan, pemaksaan, pemerkosaan dan mengakibatkan kehamilan terhadap si korban yg memungkinkan adanya keputusan dan tindakan aborsi (pembunuhan) janin dari pihak korban.

Denda materiil utk apa? Denda digunakan utk biaya pengobatan psikologis, biaya kehamilan, biaya persalinan dan biaya mengasuh anak sampai usia 17 th dimana anak sudah bisa mencari nafkah secara legal.
Dan apabila si pelaku tidak sanggup membayar, maka masa hukuman diwajibkan ditambah 17 thn penjara.

2. Psikologi, Harga diri dan Masa depan seorang korban pemerkosaan dirampas paksa. Tentunya beban Psikologis yg ditanggungnya teramat berat. Dibutuhkan perawatan dan terapi mental yg berkelanjutan dan di dalam pengawasan ahlinya.
Penerimaan diri si korban terhadap keluarga, kerabat, sahabat, teman, tetangga dan lingkungan merupakan tanggungjawab psikiater. Dan utk biaya Psikiater, Pemerintahlah yg seharusnya menyediakan sarana psikiater melalui kementrian pemberdayaan wanita dan sosial.

3. Rohani, Kerohanian seorang korban perlu dibina, supaya korban dapat menerima apa yg sudah terjadi terhadap dirinya, dapat memaafkan si pelaku dan si korban mampu menatap masa depan yg sesungguhnya masih ada.


Note :
Menurut pemikiran saya, Hukumlah (seperti yg sdh disebutkan) yg seharusnya memberikan rasa keadilan dan kemanusiaan yg sangat urgensi utk diterapkan kepada si pelaku pemerkosaan.