Agama Konghucu berasal dari Cina daratan dan yang dibawa oleh para pedagang Tionghoa dan imigran. Diperkirakan pada abad ketiga Masehi, orang Tionghoa tiba di kepulauan Nusantara.
By Lifin88
#2632
Episode 91. Anak-Anak Muda Dari Ho Hiang

Orang-orang Ho Hiang terkenal sukar diajak bicara baik-baik. Ketika melewati daerah itu, beberapa orang anak-anak muda Ho Hiang ingin menjumpai Nabi, maka murid-murid merasa bimbang memenuhi permintaan itu.

Ketika Nabi mengetahui hal itu, beliau bersabda, “Aku hanya melihat bagaimana mereka datang, bukan apa yang akan mereka perbuat setelah berlalu. Mengapa kamu bersikap keterlaluan, murid-muridKu? Orang yang datang dengan sudah membersihkan diri, kuterima kebersihan dirinya itu tanpa kupersoalkan apa yang telah pernah mereka perbuat pada waktu yang lalu.” (Sabda Suci VII: 29).

Demikianlah anak-anak muda Ho Hiang itu menjumpai dan berwawancara dengan Nabi; dan dengan gembira Nabi menerima mereka.

Dari Ho Hiang Nabi meneruskan perjalanan dan akhirnya tiba kembali di Negeri Wee yang ketika itu diperintah oleh raja muda yang baharu, Wee Chut Kong. Ketika itu beliau telah berusia 63 tahun.

Sejak naik takhta, Raja muda Wee Chut Kong lebih banyak melewatkan waktunya di luar negeri karena takut ancaman ayahnya, putera mahkota Kai Khui, yang terus berusaha kembali ke Negeri Wee; kekuasaan pemerintahan diserahkan kepada saudara sepupunya, Perdana Menteri Khong Khwee. Maka raja muda-raja muda lain menganggap Wee Chut Kong telah mema’zulkan diri dari takhtanya.

=================
Episode 92. Membenarkan Nama-Nama

Beberapa orang murid Nabi memangku jabatan di Negeri Wee, antara lain Cu Lo, Cu Kau, dll.

Suatu hari, Cu Lo bertanya, “Kalau Raja muda Wee mengangkat Guru dalam pemerintahan, apakah yang akan Guru lakukan lebih dahulu?”

Nabi bersabda, “Akan kubenarkan lebih dahulu nama-nama.” Cu Lo sangat terkejut karena itu berarti harus ada perombakan besar-besar, maka ia berkata, “Mengapakah demikian? Jawaban Guru jauh dari persoalannya. Mengapakah perlu lebih dahulu membenarkan nama-nama?”

Nabi bersabda, “O, Yu, sungguh kasar engkau. Seorang Susilawan bila belum memahami sesuatu tidak lekas-lekas mengeluarkan pendapat. Bilamana nama-nama tidak benar, pembicaraan tidak akan sesuai dengan hal yang sesungguhnya. Bila pembicaraan tidak sesuai dengan hal yang sesungguhnya, segala urusan tak dapat dilakukan baik-baik. Bila pekerjaan tidak dapat dilakukan baik-baik, kesusilaan dan musik tak dapat berkembang. Bila Kesusilaan dan musik tidak dapat berkembang, hukum pun tidak dapat dilakukan dengan tepat. Bila hukum tidak dapat dilakukan dengan tepat, maka rakyat akan merasa tiada tempat untuk menaruhkan kaki dan tangannya. Bagi seorang Susilawan, nama itu harus sesuai dengan yang diucapkan dan kata-kata itu harus sesuai dengan perbuatannya. Itulah sebabnya seorang Susilawan tidak gampang-gampang mengucapkan kata-kata.” (Sabda Suci XIII: 4).

=================
Episode 93. Topi Bagi Seorang Pria

Pada suatu pagi, datang berkumpul murid-murid di ruang pendidikan (Hing Than), mereka datang, memberi hormat dan masing-masing mulai sibuk mengerjakan tugasnya.

Di antara murid-murid yang biasa datang, belu m nampak seorang yaitu Cu Lo. Baharu beberapa saat kemudian dengan tergesa-gesa ia masuk ke ruangan, memberi hormat lalu duduk dan akan mengerjakan pelajarannya.

Nabi dengan agak tertegun memandang Cu Lo, lalu bertanya, “Bagaimanakah seorang pria dapat menghadiri pertemuan dengan tanpa mengenakan topi di kepala?”

Mendengar itu, Cu Lo sangat terkejut dan malu karena merasa bersalah; ia lalu mohon diri dan kembali mengikuti pelajaran setelah mengenakan topinya.

Menurut adat jaman itu, seorang laki-laki setelah lewat akil-baliq wajib mengenakan topi atau pita pengikat rambut dalam pergaulan umum. Peristiwa itu sangat berkesan kepada Cu Lo sampai akhir hayatnya.

“Cu Lo bila mendengar suatu ajaran dan belum berhasil menjalankannya, ia takut kalau-kalau mendengar ajaran baru pula.” (Sabda Suci V: 14).

=================
Episode 94. Pemerintahan Kota Bu Sing

Cu Yu, murid Nabi, menjadi kepala daerah Kota Bu Sing. Suatu hari Nabi berkunjung ke sana; ketika memasuki wilayah itu Nabi mendengar suara musik dan orang menyanyi. Dengan gembira dan tersenyum Nabi bersabda, “Mengapakah untuk memotong ayam sampai menggunakan golok pemotong lembu?”

Mendengar itu Cu Yu menjawab, “Dahulu Yan (Cu Yu) mendengar Guru bersabda, ‘Seorang pembesar bila mau belajar menempuh Jalan Suci, niscaya akan dapat benar-benar mencintai rakyatnya dan rakyat jelata bila mau belajar menempuh Jalan Suci, niscaya akan mudah diserahi tugas’.”

Nabi bersabda, “Hai, murid-murid, ucapan Yan ini benar, kata-kataku tadi hanya untuk kelakar saja.” (Sabda Suci XVII: 4).

Di dalam kesempatan lain, Nabi bertanya, “Sudahkah engkau mendapatkan seorang pembantu yang cakap?”

Cu Yu menjawab, “Ada. Ia bernama Tam Tai Biatbing. Pada waktu berjalan, ia tidak pernah memotong jalan melalui lorong-lorong dan bila tidak karena sesuatu urusan negara, ia tidak pernah datang ke rumah Yan.” (Sabda Suci VI: 14).

“Seorang Susilawan lambat bicara, tetapi tangkas bekerja. Kebajikan tidak akan terpencil, ia pasti beroleh tetangga.” (Sabda Suci IV: 24, 25).


=================
Episode 95. Berbagai Kesedihan Menimpa Kehidupan Nabi

Pada tahun-tahun akhir Nabi di Negeri Wee, berbagai peristiwa menyedihkan menimpa kehidupan beliau.

Pada tahun 494 SM, isteri beliau, Kian-kwan Si meninggal dunia di Negeri Song. Oleh peristiwa ini, putera Nabi, Li atau Pik Gi menjadi sangat sedih; ia melakukan perkabungan besar. Baru saja lewat masa berkabung dan sembahyang besar Tai Siang (tiga tahunan), Li jatuh sakit dan meninggal dunia pada permulaan tahun 482 SM.

Beberapa bulan kemudian peristiwa duka ini disusul dengan meninggal dunianya Gan Hwee, murid yang dinilai Nabi akan mampu sempurna sebagai penerusnya. Maka peristiwa yang paling akhir ini begitu menyedihkan Nabi.

Di dalam Kitab Sabda Suci XI: 9 ditulis: Ketika Gan Yan meninggal dunia Nabi berseru, “O, mengapa Tuhan mendukakanKu, mengapa Tuhan mendukakanKu?” Ketika murid-murid berkata, “Sungguh Guru sangat sedih.” Nabi bersabda, “Terlalu sedihkah Aku? Kalau Aku tidak bersedih untuk dia, untuk siapakah Aku boleh bersedih?”

Meski demikian, Nabi tidak menjadi putus asa atau patah semangat sebagai Genta Rokhani Tuhan Yang Maha Esa untuk membawa dunia kembali kepada Jalan Suci. Bahkan beliau seolah dipacu untuk melihat dan menilai murid-murid yang lain sebagai calon-calon penerusNya.

=================
Episode 96. Pulang Ke Negeri Lo

Pada tahun 483 SM, Jiam Kiu yang menjadi menteri pada Keluarga Besar Bangsawan Negeri Lo, Kwi Khongcu telah berhasil melakukan operasi militer menahan serbuan Negeri Cee dan mengalahkannya di daerah Long. Kwi Khongcu sangat terkesan dan bertanya, “Dari siapa Anda belajar atau memang sudah bakat sehingga begitu berhasil dalam peperangan itu?”

Jiam Kiu menjawab, “Saya belajar dari Nabi Khongcu.” “Bagaimanakah sesungguhnya Nabi itu?”

“Beliau ialah seorang yang perilakunya menepati prinsipnya. Di dalam menerapkan prinsip itu dalam memerintah rakyat, beliau berusaha mewujudkan apa yang dikehendaki Tuhan Yang Maha Rokh itu. Inilah Jalan Suci yang hendak dicapainya; beliau tidak mengharapkan kekayaan atau keuntungan sekalipun yang berharga ribuan desa.”

“Dapatkah saya mengundangNya pulang?” “Bila Anda bermaksud demikian, jagalah agar tidak ada orang rendah budi yang menghalanginya.”

Ketika itu, Menteri Khong Buncu dari Negeri Wee merencanakan menyerbu Thai Siok, lalu bertanya kepada Nabi, tetapi Nabi menolak memberikan keterangan tentang itu. Nabi meninggalkan Negeri Wee dan berkata kepada saisnya, “Burunglah yang memilih pohon untuk hinggap, sebaliknya pohon tidak dapat mencari burung.” Meski demikian, Khong Buncu ingin menahannya. Kebetulan utusan Kwi Khongcu: Kong Hwa, Kong Pien, dan Kong Liem tiba menjemput Nabi. Demikianlah Nabi pulang ke Negeri Lo setelah mengembara hampir 14 tahun.

=================
Episode 97. Dengan Satya dan Percaya Menyeberangi Sungai

Dalam perjalanan Nabi dan murid-murid pulang ke Negeri Lo, melintang di hadapannya sebuah tebing sungai yang dalam airnya 30 tombak dan berkecepatan 90 li. Di situ berjenis ikan tidak mampu menyeberangi, berjenis bulus tidak dapat hidup di dalamnya.

Dari arah seberang muncul seorang yang membuka jubahnya akan menyeberangi air tebing itu. Nabi menyuruh salah seorang muridnya berseru menahan orang itu dengan mengatakan keadaan dan bahayanya air tebing itu.

Ternyata orang itu seolah tidak mendengar seruan itu langsung masuk dan tenggelam ke dalam air tebing itu; tidak lama kemudian telah muncul dan berjalan ke luar. Nabi lalu bertanya kepada orang itu,
“Dengan ilmu apakah anda dapat masuk dan keluar air tebing ini?”

Orang itu dengan kerendahan hati berkata, “Mula-mula saya memasuki air tebing ini dengan semangat Satya dan Percaya dan selanjutnya saya keluar dari sungai ini juga dengan semangat Satya dan Percaya. Dengan semangat Satya dan Percaya itulah saya menempuh arus itu, dan saya pun tidak berani menggunakan semuanya itu untuk kepentingan diri sendiri. Demikianlah saya dapat masuk dan keluar air tebing ini dengan selamat.”

Nabi bersabda, “Ketahuilah murid-muridKu, arus sungai pun menjadi dekat dengan diri oleh semangat Satya dan Percaya. Apalagi kepada sesama manusia.”

=================
Episode 98. Pemberian Pembuat Periuk Miskin

Di Negeri Lo ada seorang pembuat periuk dari tanah liat yang miskin, ketika sedang menanak nasi, ia mendengar Nabi dan murid-muridnya lewat daerahnya. Ia mencicipi nasi hasil masakannya, ia merasa nasi itu sungguh baik. Maka ia mengambil nasi itu dan ditempatkan pada sebuah mangkuk hasil buatannya, lalu bergegas menjumpai Nabi menyerahkan nasi itu.

Nabi menerima nasi dalam periuk itu dengan sangat gembira dan berterima kasih. Melihat sikap Nabi itu, Cu Lo merasa heran dan bertanya, “Periuk adalah peralatan yang murah, dan nasi adalah makanan yang terlalu sederhana. Mengapakah Guru nampak begitu gembira?”

Nabi bersabda, “Menteri yang berani memberi peringatan menunjukkan ia memikirkan rajanya. Menanak nasi yang baik lalu ingat kepada orang tua, itu menunjukkan cinta dan bakti. Aku tidak menilai tentang betapa sederhananya mangkuk yang digunakan, tetapi semangat cinta dan baktinya.”

“Di dalam laku bakti, sikap wajahlah yang sukar. Ada pekerjaan anak melakukan dengan sekuat tenaga, ada anggur dan makanan, lebih dahulu disuguhkan kepada orang tua; tetapi kalau hanya demikian, cukupkah dinamai Laku Bakti?” (Sabda Suci II: 8).

=================
Episode 99. Diterima Raja Muda Lo Ai Kong

Raja muda Lo Ai Kong dengan sangat gembira menyambut Nabi pulang ke Negeri Lo. Diadakan jamuan khusus untuk menyambut beliau.

Ketika Raja muda Ai bertanya tentang siapakah di antara murid Nabi yang benar-benar suka belajar. Nabi menjawab, “Hwee-lah benar-benar suka belajar, ia tidak memindahkan kemarahan kepada orang lain dan tidak pernah mengulangi kesalahan. Sayang takdir menentukan usianya pendek dan telah meninggal dunia.” (Sabda Suci VI: 3).

Ketika Raja muda Ai bertanya bagaimanakah agar rakyat mau menurut, Nabi menjawab, “Angkatlah orang yang jujur dan singkirkan orang yang curang; dengan demikian rakyat akan menurut. Kalau diangkat orang-orang yang curang dan disingkirkan orang-orang yang jujur, niscaya rakyat tidak akan menurut.” (Sabda Suci II: 19).

Ketika Kwi Khongcu bertanya bagaimana agar rakyat mau bersikap hormat, Satya dan bersedia menerima nasehat, Nabi menjawab, “Hadapilah mereka dengan keluhuran budi, niscaya mereka bersikap hormat. Teladanilah dengan Sikap Bakti dan Kasih Sayang, niscaya mereka akan bersikap Satya. Angkatlah orang-orang yang baik untuk mendidik yang belum mengerti, niscaya mereka mau menerima nasehat-nasehat.” (Sabda Suci “:20)

Di Negeri Lo, Nabi tidak memangku jabatan lagi; beliau melewatkan hari tuanya dengan lebih tekun membimbing murid-murid yang angkatan muda.

=================
Episode 100. Jalan Suci Yang Satu Yang Menembusi Semuanya

Murid-murid Nabi dari angkatan yang tua sebagian besar sudah bertugas di tempat-tempat jauh. Nabi menilai Gan Yan, Bien Cukhian, Jiam Pik-giu, dan Tiong Kiong adalah yang mampu melaksanakan Keajikan dengan baik. Yang pandai bicara ialah Cai-ngo dan Cu Khong. Yang cakap dalam pemerintahan ialah Jiam Yu dan Kwi Lo. Dan yang ahli dalam pengetahuan Kitab ialah Cu Yu dan Cu He.

Kini yang menyertai Nabi ialah murid-murid dari angkatan muda seperti Cingcu, Cu He, Cu Tiang, Siang Ki, Kong ee Hwa, dll. Cingcu atau Cing Cham ialah yang termaju di antara mereka, khususnya dalam kehidupan rokhaninya; maka kepadanyalah Nabi menumpahkan harapannya.

Suatu hari Nabi bersabda kepada Cingcu, “Cham ketahuilah, Jalan SuciKu itu satu, tetapi menembusi semuanya.”

Jalan Suci Yang Satu Yang Menembusi Semuanya itu ialah “Satya dan Tepasarira.

Satya bermakna menaruh iman, percaya, satya, hormat kepada Firman Tuhan Yang Maha Esa, menggemilangkan Kebajikan dengan merawat Watak Sejati insani yang mengandung benih-benih Cinta Kasih, Kebenaran, Susila, dan Bijaksana.

Tepasarira bermaksa mengamalkan Kebajikan itu dalam penghidupan; mencintai, tenggang rasa, menyayangi sesama manusia, sesama hidup dan lingkungannya. Menjadi insan Susilawan yang Dapat Dipercaya terhadap Tuhan, Khalik yang mengutusnya hidup selaku manusia, dan menjadi sahabat sejati terhadap sesamanya.

=================
By Lifin88
#2633
Episode 101. Menurunkan Jalan Suci Kepada Cingcu

Jalan Suci Yang Dibawakan Ajaran Agama diturunkan Tuhan Yang Maha Esa sebagai wakyu berbentuk diagram Pat Kwa kepada Raja Suci dan Nabi Hok Hi (Abad 30 SM), memperoleh kegemilangannya pada jaman Raja Suci Giau dan Sun (Abad 23 SM), mendapatkan kejayaannya kembali pada jaman Raja Sing Thong dan Nabi I Ien (Abad 18 SM), menjadi lebih lengkap pada jaman Nabi Ki Chiang (Bun Ong) dan Nabi Ki Tan (Ciu Kong) (Abad 12 SM) dan digenapkan/disempurnakan oleh Nabi Khongcu selaku Bok Tok, Genta Rokhani Tuhan Yang Maha Esa.

Nabi akan menurunkan Jalan Suci itu lewat Gan Yan; karena Gan Yan meninggal dunia maka dialihkan kepada Cingcu, yang kemudian oleh Cingcu diteruskan kepada Cu Su atau Khong Khiep (cucu Nabi Khongcu), dan dari Cu Su diteruskan kepada Bingcu sehingga dalam bentuknya yang lestari sehingga jaman ini.

Kepada Cingcu diturunkan pokok-pokok keimanan tentang hidup ini; bahwa hidup manusia mengemban Firman Tuhan Yang Maha Esa untuk menggemilangkan Kebajikan, kuasa dan kemuliaan Tuhan yang wajib diamalkan di dalam penghidupan sebagaimana tersirat di dalam Kitab Ajaran Besar, Tengah Sempurna maupun Kitab Bakti.

Nabi pun dengan tekun dibantu para murid menyelesaikan penyusunan dan penjilidan Kitab Yang Enam atau Liok Kong; Kitab Dokumentasi Sejarah Suci (Su King), Kitab Sanjak (Si King), Kitab Wahyu Kejadian Semesta Alam Dengan Segala Peristiwanya (Ya King), Kitab Kesusilaan (Lee King), Kitab Sejarah Jaman Chun Chiu (Chun Chiu King) dan Kitab Musik (Gak King).

=================
Episode 102. Nabi Jatuh Sakit

Di dalam usianya yang lanjut itu Nabi tanpa mengenal lelah bekerja keras menunaikan kewajiban sucinya, di dalam membina murid-murid maupun menyelesaikan penyusunan Kitab-Kitab Suci. Mungkin karena terlalu payah beliau jatuh sakit yang kiranya cukup mengkhawatirkan.

Cu Lo yang ada di Negeri Wee pun datang menjenguk dan mohon perkenan Nabi untuk menaikkan doa bagi kesembuhannya. Nabi bertanya, “Adakah peraturan semacam itu?” Cu Lo menjawab, “Ada. Di dalam Surat Doa disebut, ‘Berdoalah kepada Rokh yang di atas dan di bawah’..!”

Nabi bersabda, “Kalau begitu, Aku sudah lama berdoa.” Seluruh hidup Nabi adalah pernyataan pengabdian dan doa kepada Tuhan. Demikianlah dalam keadaan sakitpun Nabi tetap mampu membimbing murid-muridnya; ingat berdoa kepada Tuhan YME jangan hanya pada waktu menyandang kesukaran.

Sakit Nabi nampaknya kian berat, Cu Lo memerintahkan murid-murid berlaku sebagai menteri untuk persiapan perkabungan. Tatkala sakitnya agak berkurang, Nabi bersabda, “Sudah lama kiranya Aku sakit. Selalu ada-ada saja yang kau lakukan, Tiong Yu. Tidak punya menteri berbuat seolah-olah punya. Siapakah yang hendak Kukelabui? Apakah Aku akan mengelabui Tuhan? Apakah kau kira Aku lebih suka mati di pelukan tangan para Menteri daripada di dalam pelukan kamu semua murid-muridKu?”

Demikianlah Bok Tok Tuhan YME itu tetap penuh semangat membimbing dan mencintai murid-muridNya.

=================
Episode 103. Antara Sekoi Dan Buah Thoo

Selama Nabi sakit, beberapa kali Raja muda Ai menjenguk. Karena itu ia sangat gembira mendengar Nabi telah sembuh. Ia mengundang Nabi ke istana dan menjamunya. Kepada Nabi disuguhkan sepiring sekoi dan sepiring buah thoo.

Ketika Raja muda Ai menyilakan Nabi menyantap suguhan, Nabi lebih dahulu memakan sekoi baharu kemudian menyantap buah thoo.

Orang-orang di kanan-kiri yang melihat, sambil menyembunyikan mulut tersenyum. Raja muda Ai berkata, “Sekoi itu untuk menggosok bersih buah thoo, tidak untuk dimakan.”

Nabi bersabda, “Khiu mengerti hal itu, tetapi sekoi ialah yang paling utama di antara lima macam biji-bijian sebagai makanan maka disajikan dengan megah di dalam upacara sembahyang ke hadirat THIAN, Tuhan Yang Maha Esa maupun di dalam upacara sembahyang di bio leluhur. Di antara enam macam buah-bu ahan, buah thoo ialah yang paling rendah, tidak digunakan sebagai sajian sembahyang. Maka tidak dinaikkan di dalam upacara sembahyang kepada Tuhan YME maupun kepada leluhur. Apa yang Khiu dengar, seorang Susilawan menjadikan yang rendah mengikuti yang luhur, bukan menjadikan yang luhur mengikuti yang rendah. Terhadap hal yang menghalangi kesucian Agama, yang membahayakan Kebenaran, Khiu tidak berani melakukan.”
Raja muda Ai berkata, “Siancai.”

=================
Episode 104. Tripusaka

Hari lain, Raja muda Ai mohon bimbingan Nabi di dalam menyelenggarakan pemerintahan.

Nabi bersabda, “Seorang Susilawan tidak boleh tidak membina diri; bila berhasrat membina diri, tidak boleh tidak mengabdi kepada orang tua; bila berhasrat mengabdi kepada orang tua, tidak boleh tidak mengenal manusia, dan bila berhasrat mengenal manusia, tidak boleh tidak mengenal Thian (Tuhan Yang Maha Esa). Adapun Jalan Suci yang harus ditempuh di dunia ini mempunyai lima perkara dengan Tiga Pusaka di dalam menjalankannya. Yakni: hubungan raja dengan menteri, orang tua dengan anak, suami dengan isteri, kakak dengan adik dan kawan dengan sahabat. Lima Perkara inilah Jalan Suci yang harus ditempuh di dunia. Kebijaksanaan, Cinta Kasih dan Berani; Tiga Pusaka inilah Kebajikan yang harus ditempuh. Maka yang hendak menjalani, haruslah Satu tekadnya. Dengan Tripusaka itu, niscaya dapat memahami bagaimana membina diri; dengan diri yang terbina, niscaya dapat memahami bagaimana cara mengatur manusia; dan dengan kemampuan mengatur manusia, niscaya dapat pula memahami bagaimana mengatur dunia, negara, dan rumah tangga… (Tengah Sempurna XIX).

“Yang Bijaksana tidak dilamun bimbang. Yang berperi Cinta Kasih tidak merasakan susah payah. Dan yang Berani tidak dirundung ketakutan……… (Sabda Suci IX: 29).

=================
Episode 105. Gugur Sang Kilien

Pada musim semi tahun ke-14 Raja muda Ai memerintah (481 SM), raja muda itu menyelenggarakan perburuan besar di hutan Tai Ya. Co Siang tukang kereta Kepala Keluarga Siok-sun membunuh seekor hewan yang tidak dikenal. Hal ini dikhawatirkan akan membawa perlambang tidak baik, maka Raja muda Ai mengundang Nabi Khongcu melihat hewan hasil buruannya itu.

Menerima undangan itu, bergegaslah Nabi mengikuti utusan itu. Demi dilihatnya hewan yang terbunuh itu, dengan suara haru dan tangis beliau berseru, “……… itulah Kilien. Mengapa engkau menampakkan diri? Mengapa engkau menampakkan diri? Selesai pulalah kiranya perjalananku sekarang ini.”

Selanjutnya Nabi dengan penuh haru menyanyikan sebuah lagu “Pada jaman Tong Giau dan Gi Sun, muncul pesiar Kilien dan burung Hong. Kini bukan waktumu, apa yang hendak kaucari? Kilien, kilien, sungguh aku bersedih…….”

Nabi pun bersabda, “Ah, tiada orang yang mengerti akan diriKu.”
Mendengar itu Cu Khong bertanya, “Apakah maksud tiada orang yang mengerti akan Guru?”

Nabi bersabda, “Aku tidak menggerutu kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak pula menyesali manusia. Aku hanya belajar dari tempat yang rendah ini, terus maju menuju tinggi. THIAN. Tuhan Yang Maha Esalah mengerti diriKu.” (Sabda Suci XIV: 35).

=================
Episode 106. Tien Hing Membunuh Cee Kian Kong

Sedang Nabi dalam keadaan penuh prihatin itu, suatu hari mendapat laporan bahwa Tien Sing-cu atau Tien Hing, salah seorang kepala keluarga bangsawan Negeri Cee telah membunuh Raja muda Cee, Cee Kian Kong.

Mendengar itu Nabi segera mandi dan keramas lalu pergi ke istana memberi laporan kepada Raja muda Ai, “Tien Hing telah membunuh rajanya. Mohon baginda mengambil tindakan untuk menghukumnya.”

Raja muda Ai ternyata hanya menanggapi dengan berkata, “Beritahukanlah kepada ketiga Keluarga Besar itu.”

Setelah undur dari istana, Nabi dengan kecewa bersabda, “Karena Aku pernah menjadi menteri, maka tidak berani tidak memberi laporan, tetapi pangeran berkata supaya hal itu dilaporkan kepada ketiga Keluarga Besar itu.”

Meski demikian, beliau mematuhi melaporkan hal itu kepada kepala ketiga Keluarga Besar itu, tetap mereka tidak menyetuju i saranNya.

Nabi bersabda, “Aku pernah menjadi menteri, maka tidak berani tidak memberi laporan.”

Demikianlah hal-hal yang ingkar dari Jalan Suci merajalela, cahaya Kebajikan pudar, seruan Nabi seolah suara yang ditelan kebisingan dunia.

Siapakah mau mendengar?

=================
Episode 107. Cu Lo Gugur Di Negeri Wee

Tahun berikutnya, kembali Nabi menanggung peristiwa duka untuk sekian kalinya. Cu Lo murid yang jujur, sederhana dan gagah berani itu gugur dalam pertempuran melawan kaum pemberontak di Negeri Wee.

Kemelut di Negeri Wee ternyata memuncak karena berbagai pertentangan di istana. Ibunda Perdana Menteri Khong Khwee ternyata memihak adik kandungnya, yaitu putera mahkota Kwai Khwi. Diam-diam ia menyelundupkan putera mahkota ke Negeri Wee dan dengan suatu tipu muslihat Perdana Menteri Khong Khwee ditangkap dan dipaksa ibunya untuk mengakui kedaulatan Kwai Khwi atas takhta Negeri Wee dan memecat Raja muda Wee Chut Kong. Demikianlah Kwai Khwi berhasil merebut kekuasaan dari puteranya dan naik takhta Negeri Wee dengan bergelar Wee Cong Kong.

Ketika peristiwa perebutan kekuasaan ini terjadi dua orang murid Nabi yang memangku jabatan di Negeri Wee, yaitu Cu Lo atau Tiong Yu dan Koo Chai atau Cu Kau sedang bertugas di luar daerah.

Pada waktu mereka datang, ibukota telah dikuasai kaum pemberontak. Koo Chai yang melihat keadaan sudah tidak dapat ditolong, langsung meninggalkan Negeri Wee menuju ke Negeri Lo untuk kembali kepada Gurunya. Sebaliknya, Cu Lo yang berprinsip, betapa pun ia berkewajiban membela dan membebaskan Perdana Menteri Khong Khwee, tanpa menghiraukan keadaan dan keselamatan dirinya menyerbu ke ibukota. Cu Lo gugur demi kesadaran akan kewajibannya; sebelum gugur dikeroyok kaum pemberontak, ia membetulkan letak topinya yang lepas dan berseru kepada Nabi, “Guru, seorang pria Susilawan tidak akan lepas dari topinya.” Demikianlah Cu Lo; diterimalah arwahnya di haribaan Kebajikan Tuhan Yang Maha Gemilang.

=================
Episode 108. Harapan Kepada Generasi Penerus

Khong Khiep alias Cu Su ialah cucu Nabi, putera Li. Pada waktu Li meninggal dunia, Cu Su masih kanak-kanak, dan selanjutnya diasuh neneknya, dan menerima bimbingan dan pendidikan langsung dari Nabi.

Suatu hari Cu Su mendengar kakeknya menarik nafas dalam seorang diri; ia lalu menghadap dan dua kali membongkokkan diri lalu menanyakan akan kesedihannya, “Adakah kakek berprihatin kalau-kalau cucu tidak sungguh-sungguh membina diri sehingga tidak berharga? Ataukah karena kakek mengagumi Jalan Suci Giau dan Sun sehingga khawatir cucu tidak dapat seperti mereka?”

Nabi menjawab, “O, bagaimana engkau tahu akan fikiranku?”

“Cucu sering mendengar dari ajaran kakek bahwa bila seorang ayah telah mengumpulkan dan menyiapkan kayu bakar dan anaknya tidak dapat mengangkutnya, ia dinamai orang yang merosot dan tidak berharga. Ajaran itu sangat berkesan ke dalam hati dan menimbulkan kecemasan.”

Nabi sangat gembira dan berkata, “Kini, sungguh, aku tidak akan khawatir lagi. Harapanku tidak akan sia-sia, melainkan akan dapat terus dikembangkan.”

Nabi pu n bersabda, “Kita harus hormat kepada angkatan muda, siapa tahu mereka tidak seperti angkatan yang sekarang. Tetapi bila sudah berumur empat puluh, lima puluh, belum terdengar perbuatannya yang baik, bolehlah dinilai memang tidak cukup syarat untuk dihormati.” (Sabda Suci IX: 24).

=================
Episode 109. Dipersembahkan Dan Dimohonkan Berkat Thian

Suatu hari Cu He melapor, di luar gerbang Lo Twan ada sorot cahaya merah dan daripadanya nampak tulisan berbunyi, “Segera bersiaplah, sudah tiba waktunya Nabi Khongcu, Dinasti Ciu akan musnah, bintang sapu akan muncul, Kerajaan Chien akan bangkit dan terjadilah huru-hara. Kitab-kitab Suci akan dimusnahkan, tetapi AjaranMu tidak akan terputuskan.”

Setelah melihat sendiri kejadian itu, maka disiapkan suatu altar untuk upacara sembahyang dan diletakkan Kitab-Kitab Suci yang telah beliau susun itu di atas meja sembahyang.

Dikumpulkan semua murid-murid. Nabi memimpin mereka bersama menghadap ke arah Bintang Utara melakukan sembahyang dan membongkokkan diri tiga kali. Nabi lalu mengacungkan pena yang lebih dahulu telah dicelupkan ke dalam tinta merah ke arah Bintang Utara, serta bersabda, “Kini telah cukup Khiu menjalankan Firman THIAN bagi manusia, Khiu pun telah menyelesaikan menyusun dan membukukan Kitab-Kitab Suci ini. Bila telah tiba waktunya, Khiu telah bersedia kembali ke haribaan Tuhan Yang Maha Esa.”

Setelah selesai Nabi bersabda, maka nampak awan gelap di sebelah Utara, yang tidak lama kemudian berubah menjadi halimun putih, dan setelah buyar halimun putih itu, tampaklah pelangi dengan kelima warnanya yang indah.

Sungguh di dalam Kebajikan Tuhan berkenan.

=================
Episode 110. Dua Tiang Merah

Kini kita tiba pada bagian akhir kehidupan Nabi. Suatu malam Nabi bermimpi duduk di dalam sebuah kuil di antara dua pilar merah. Impian ini meyakinkan beliau bahwa hari baiknya telah dekat.

Pagi itu beliau bangun dari tidur lalu dengan tangan menarik tongkat di belakang punggungnya berjalan kian kemari di halaman depan rumah; terdengar beliau menyanyi, “Gunung Thai-san runtuh, balok-balok patah dan selesailah riwayat Sang Budiman.”

Saat itu kebetulan Cu Khong menjenguk Nabi dan mendengar nyanyian itu, ia lalu menyambut dengan nyanyian, “Bila Thai-san runtuh, apakah yang boleh kulihat? Bila balok-balok patah, di mana tempatku berpegang? Bila Sang Budiman gugur, siapakah sandaranku?”

Nabi segera memanggil Cu Khong dan bertanya, mengapa ia demikian terlambat datang. Sudah lama Cu Khong tidak berjumpa dengan Nabi karena menjalankan tugas di tempat yang jauh.

Nabi mengajaknya masuk dan setelah itu Cu Khong mohon penjelasan mengapa Nabi menyanyi demikian itu. Nabi menjawab, “Semalam Aku beroleh penglihatan, duduk di dalam sebuah kuil di antara dua pilar merah. Ini mungkin karena Aku keturunan Dinasti Siang/Ien. (Seorang keturunan dinasti Siang bila meninggal dunia, peti jenazahnya disemayamkan di antara dua pilar rumahnya.) Tidak ada raja suci datang, siapa mau mendengar AjaranKu? Sudah saatnya Aku meninggalkan dunia ini.”

=================
By Lifin88
#2634
Episode 111. Berpulanglah Nabi Ke Haribaan Tuhan Khalik Yang Mengutusnya

Sejak kejadian pagi itu, Nabi tidak lagi keluar dari ruangan, dan tujuh hari kemudian beliau wafat (18 Ji Gwee 479 SM). Ketika itu telah banyak murid-murid berkumpul dan berjaga.

Dengan dipimpin Cu Khong mereka menyiapkan pemakaman Guru yang dihormat dan dikasihi itu. Ditetapkan hari dan tempat pemakaman. Upacara pemakaman diselenggarakan dengan suasana hening, khidmat dan sederhana.

Dalam upacara pemakaman, Raja muda Ai telah memerlukan hadir dan membacakan surat doa yang antara lain berbunyi, “O, Bien Thian, Tuhan Yang Maha Pengasih, sungguh tidak menaruh belas kasihan kepadaku, mengapakah tidak merakhmatkan Bapak Tua ini mendampingiku? Aku ditinggalkan seorang diri di dunia, O Ho, Ai Cai. O, Bapak Ni, kepada siapa aku mohon petunjuk?”

Mendengar surat doa Raja muda A i itu, Cu Khong menjadi kurang senang dan berkata, “Adakah Guru kita ini meninggal dunia di tanah asing? Guru pernah bersabda, ‘Kehilangan Susila adalah gelap/tolol, salah menggunakan gelar adalah tidak benar. Meninggalkan prinsip adalah tolol, melupakan kedudukan adalah tidak benar. Tidak
memanfaatkan waktu hidupnya, tetapi meratapi saat meninggal dunianya adalah bertentangan dengan Kesusilaan, menyebutkan diri sebagai yang seorang diri (= sebutan untuk kaisar) tidak tepat bagi seorang raja muda.”

Meski demikian, kiranya Raja muda Ai telah sungguh-sungguh mengungkapkan perasaan hatinya dengan jujur.

=================
Episode 112. Makam Nabi Khongcu

Nabi Khongcu dimakamkan di dekat Sungai Su Swi, sebelah utara ibukota Negeri Lo; murid-murid melakukan perkabungan besar selama tiga tahun (seperti kematian orang tua sendiri). Setelah usai masa berkabung mereka saling mengucapkan selamat berpisah dan kembali ke tempat masing-masing; mereka menangis di hadapan makam sebelum meninggalkan tempat itu. Sebagian dari murid-murid ada yang tetap tinggal di daerah itu, hanya Cu Khong yang masih tinggal dalam sebuah pondok dekat makam sampai enam tahun baharu pergi.

Lebih dari seratus keluarga, terdiri atas murid-murid Nabi dan orang-orang Negeri Lo bermukim di daerah makam itu; dan tempat itu berubah menjadi sebuah desa yang dinamai Khongli atau Kampung Nabi Khongcu.

Di sekitar makam itu, banyak murid menanam pohon Kai seperti yang pernah dilakukan Nabi. Banyak di antara pohon itu tetap hidup subur dan berdiri megah sampai saat ini.

Ditulis sebuah sanjak:
Kesusilaan dan musik dari Hing Than (nama ruang tempat Nabi mengajar)
memahkotai semua bangsa,
Ayat-ayat Kitab Suci dari Su Swi memancar gemerlap bagai matahari dan bulan.

Demikianlah Ji Kau atau kemudian disebut A gama Khonghucu bangkit berkembang kembali menjadi Genta Rokhani Tuhan Yang Maha Esa membimbing insan menegakkan Firman menempuh Jalan Suci dan menggemilangkan Kebajikan.

=================
Episode 113. Tanda Peringatan Yang Abadi

Di dekat makam itu atas prakarsa Raja muda Lo Ai Kong telah didirikan sebuah kuil atau bio untuk menghormati Nabi Khongcu; diselenggarakan upacara sembahyang pada empat musim untuk memperingati beliau; di situ diselenggarakan ibadah, kothbah, dan diskusi untuk mendalami Ajaran Agama.

Kompleks makam itu ada seratus bao luasnya, maka gedung-gedungnya cukup untuk menampung seluruh murid dan para pengikut Nabi.

Benda-benda pusaka warisan Nabi, seperti topi, jubah, alat musik, kereta dan Kitab-Kitab disimpan lestari turun temurun di situ.

Kaisar pertama Dinasti Han ketika berkunjung ke Negeri Lo telah melakukan sembahyang dan penghormatan di situ. Ia telah mewajibkan tiap bangsawan dan pejabat melakukan sembahyang dan bersumpah di hadapan altar Nabi sebelum memangku jabatan.

Berbagai gelar diberikan oleh para kaisar sepanjang jaman; Kaisar Ciu King Ong memberikan gelar Ni Hu (Bapak Ni), raja-raja Dinasti Han memberikan gelar Sing Swan Ni Hu (Bapak Ni Penebar Agama Yang Sempurna), tahun 492 gelar itu diubah menjadi Bun Sing Ni Hu (Bapak Ni Nabi Yang Mewariskan Kitab Suci); dan kini gelar yang paling umum ialah Ci Sing Sian Su atau Nabi Agung Guru Purba Khonghucu. Akan berbagai gelar ini, hendaknya kita beriman bahwa sesungguhnya bukan gelar yang diharapkan Nabi, melainkan beliau menghendaki kita mampu membina diri menempuh Jalan Suci.

Siancai.

=================

DAFTAR KRONOLOGI SEJARAH SUCI AGAMA KHONGHUCU

……… – 5,000 SM
– Phwan Ko atau Makhluk/manusia Pertama
– Thian Hong atau Sri Maharaja Diraja Langit
– Tee Hong atau Sri Maharaja Diraja Bumi
– Jien Hong atau Sri Maharaja Diraja Manusia
– Yu Cau atau Manusia Pencipta Sarang
– Swi Jiem atau Manusia Penemu Penggunaan Api

5,000 SM – 2,000 SM
– Raja Suci Nabi Hok Hi yang menerima Wahyu Diagram Pat Kwa, memerintah selama 115 tahun (2,953 SM – 2,838 SM)
– Raja Su ci Sien Long, dikenal rakyat sebagai Dewa Tani karena keahliannya dalam pertanian dan obat-obatan, memerintah 140 tahun (2,838 SM – 2,698 SM)
– Raja Suci Ui Tee, Bapak Peradaban dan Kebudayaan, memerintah selama 100 tahun (2,698 SM – 2,598 SM)
– Raja Suci Giau (2,357 SM -2,255 SM) dan Raja Suci Sun (2,355 SM – 2,205 SM); peletak dasar-dasar ajaran agama Khonghucu (Ji Kau). Dibantu : Nabi besar Koo Yau, Menteri Pendidikan Siat (nenek moyang Nabi Khongcu), Menteri Pertanian Ki
– I Agung, Menteri Pekerjaan Umum Giau dan Sun, yang berhasil menanggulangi bencana banjir, menjadi raja yang pertama Dinasti He, memerintah 2,205 SM – 2,197 SM. Menerima Wahyu Hong Wan. Dibantu Nabi Besar Ik.

2.000 SM – 1,000 SM
– Dinasti He (2,205 SM – 1,766 SM)
– Dinasti Siang/Ien (1,766 SM – 1,122 SM), didirikan oleh Raja Sing Thong, keturunan Menteri Pendidikan Raja Suci Giau dan Sun yang bernama Siat; nenek moyang Nabi Khongcu. Baginda Sing Thong menegakkan dinasti Siang dibantu Nabi Ie Ien dengan menumbangkan kekuasaan Raja He Kiat.
– Nabi Ki Chiang atau Raja Bun, keturunan Menteri Pertanian Ki, menerima Wahyu menulis Teks Pokok Kitab Ya King ketika dihukum buang oleh Raja Tiu di tanah Yu Li (Abad 12 SM).
– Nabi Besar Ciu Kong Tan, Pangeran Ciu, putera keempat Nabi Ki Chiang; menerima wahyu menulis teks yang lebih terurai daripada Ya King; Kitab Suci Ciu Lee dan Gi Lee juga kita warisi dari beliau.

1,000 SM – 220 M
– Dinasti Ciu (1,122 SM – 255 SM), didirikan oleh Raja Bu, putera Raja Bun. Raja Bu menegakkan Dinasti Ciu dengan menumbangkan Dinasti Siang yang diperintah oleh Raja Tiu. Nabi Ciu Kong berperanan penting dalam melestarikan kekuasaan dinasti ini.
Jaman Chun Chiu (722 SM – 481 SM), berkuasa Raja muda-raja muda
Pemimpin: Cee Hwan Kong, Song Siang Kong, Cien Bun Kong, Cho
Chong Ong, Chien Bok Kong.
– Nabi Khongcu (551 SM – 479 SM)
– Jaman Cian Kok (403 SM – 221 SM) berkuasa negara-negara Cee, Yan, Thio, Gwi, Han, Cho, dan Chien
– Bik-cu (497 SM – 381 SM) Mohist
– Bingcu (372 SM – 289 SM)
– Congcu (369 SM – 286 SM) Taoist
– Suncu (298 SM – 238 SM)
– Dinasti Chien (255 SM – 207 SM)
– Pembakaran Kitab-Kitab Suci (213 SM)
– Dinasti Han (206 SM – 220 M)
– Tang Tiong Su (179 SM – 104 SM)
– Kaisar Han Bu Tee (140 SM – 87 SM) menetapkan Agama Khonghucu menjadi Agama Negara Dinasti Han (136 SM)
– Nyoo Hiong (53 SM – 18 M)
– Lau Hiem (46 SM – 23 M)
– Ong Chong (27 M – 100 M)

Tokoh-tokoh pelopor Neo-Confusianisme:
– Ong Thong (584 – 617), hidup jaman Dinasti Swee (590 – 617)
– Han Ji (768 – 824) & Li Au (wafat tahun 844), mereka hidup pada jaman Dinasti Tong (618 – 906)

Tokoh-tokoh Neo-Confusianisme Dinasti Song (960 – 1,279):
– Ciu Tun I (1,017 – 1,073)
– Siau Yong (1,011 – 1,077)
– Tio Cai (1,020 – 1,077)

Aliran Rasionalis (Li Hak):
– Thia I (1,033 – 1,108)
- Cu Hi (1,130 – 1,200)

Aliran Idealis (Siem Hak)
– Thia Hoo (1,032 – 1,085)
– Liok Kiu Yan (1,139 – 1,193)
– Ong Yang Bing (1,472 – 1,529), tokoh yang terakhir ini hidup pada jaman Dinasti Bing (1,368 – 1,642)

http://matakin.wordpress.com/nabi-kong-ziconfucius/
By kenzie25
#7922
baca ini harus 2x karena membuat kita berpikir lebih dalam mengenai artinya. sebelumnya siapakah tokoh2 Neo-Confusianisme di jaman sekarang ini?